Korsel Dibayangi Resesi Seks, Begini Pengakuan Warga yang Ogah Punya Anak

ADVERTISEMENT

Korsel Dibayangi Resesi Seks, Begini Pengakuan Warga yang Ogah Punya Anak

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Minggu, 27 Nov 2022 12:06 WIB
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)
Korea Selatan dihantui resesi seks. (Foto ilustrasi: Getty Images/Kevin Frayer
Jakarta -

Susul China dan Jepang, Korea Selatan juga kini dibayangi resesi seks. Resesi seks dikaitkan dengan menurunnya gairah seseorang untuk berhubungan seks, menikah, dan memiliki anak.

Pertama kalinya populasi 'menyusut' di Korea Selatan per 2021 dan diprediksi akan terus menurun, dari 52 juta menjadi 38 juta di 2070.

Tahun lalu, angka kesuburan Korsel bahkan menjadi yang terendah di dunia yakni 0,81. Pemerintah setempat akhirnya mendorong bantuan berupa uang tunai, tunjangan biaya kelahiran, pengobatan, hingga kemudahan pinjaman demi mengatasi 'resesi seks'.

Namun, Jung Chang-lyul, seorang profesor kesejahteraan sosial di Universitas Dankook, mengatakan langkah tersebut tampaknya sia-sia.

"Sementara masalah angka kelahiran yang rendah mungkin tampak penting di permukaan, masalah sebenarnya adalah tidak ada yang bertanggung jawab," kata Jung, merujuk pada tingginya biaya membesarkan anak dan harga real estat, paling tidak di Seoul, di mana rata-rata harga apartemen meningkat dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.

Cerita Warga Korsel Enggan Punya Anak

Salah satunya dialami Choi Jung-hee, pekerja kantoran yang baru menikah. Ia tidak ada rencana memiliki anak.

"Hidupku dan suamiku yang utama," katanya.

"Kami menginginkan kehidupan yang menyenangkan bersama, meskipun orang-orang mengatakan memiliki anak dapat memberi kami kebahagiaan, tetapi kami juga harus banyak bekerja keras."



Simak Video "Populasi Menurun dalam 60 Tahun, Generasi Muda China Enggan Berkeluarga"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT