Thailand Ikut Dihantui Resesi Seks, Ogah Punya Bayi! Populasi Terus Menua

ADVERTISEMENT

Thailand Ikut Dihantui Resesi Seks, Ogah Punya Bayi! Populasi Terus Menua

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Rabu, 30 Nov 2022 07:05 WIB
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)
Resesi seks terjadi di Thailand. (Foto ilustrasi: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

Bukan cuma mengintai Korea Selatan, Thailand juga dihadapi dengan 'resesi seks'. Jumlah kelahiran terus menyusut di tengah populasi kian menua.

Tren demografis Thailand saat ini jauh berbeda dari 1960-1970, ketika sebagian besar keluarga memiliki rata-rata tujuh anak dan tingkat kesuburan mencapai 6,1. Penurunan terjadi selama lima tahun terakhir.

Per 2020, menjadi berada di 1,24, lebih rendah dari tingkat penggantian populasi sekitar 1,6. Laporan tersebut bak menjadi pukulan ganda bagi Thailand.

Pemerintah setempat mendorong lebih banyak pasangan untuk memiliki bayi. Di tengah ancaman krisis demografi, para ahli keluarga berencana juga meminta pemerintah memberikan perhatian lebih kepada populasi yang menua agar tetap produktif.

"Kita harus memikirkan kembali persepsi kita tentang demografi senior. Karena jika kita tidak mengubah tantangan ini menjadi peluang, itu tentu akan terjadi krisis," kata Asisten Profesor Piyachart Phiromswad, yang berspesialisasi dalam ekonomi kependudukan di Thailand, dikutip dari The Guardian.

Bujuk Gaya Hidup Berubah

Menurutnya, tidak efektif membujuk pasangan untuk memiliki lebih banyak anak, dengan mengubah sikap terhadap keluarga, karier, dan gaya hidup.

"Bukti telah menunjukkan bahwa tidak mungkin untuk sepenuhnya membalikkan penurunan tingkat kesuburan. Kita perlu mengalihkan fokus pada orang-orang yang ada dan melihat populasi lanjut usia sebagai sumber produktivitas," katanya, mencatat bahwa teknologi, perawatan kesehatan, dan perubahan pola pikir dapat memungkinkan orang lanjut usia tetap berkontribusi dan produktif.

"Kalau orang sehat dan masih bisa bekerja, mungkin usia 60 tahun ke atas masih bisa produktif."

Pada Konferensi Internasional tahunan tentang Keluarga Berencana di Pattaya awal November, pakar kependudukan dan anggota parlemen Thailand berbicara tentang kebijakan keluarga berencana di negara tersebut sejak tahun 1960-an, dan tantangan saat ini.

"Tantangan saat ini adalah untuk mengatasi tingkat kesuburan yang rendah yang dapat berdampak negatif terhadap ekonomi dan tenaga kerja di masa depan," kata direktur jenderal Departemen Pengendalian Penyakit Suwannachai Wattanaying-charoenchai.

"Sementara negara-negara kaya seperti Jepang dan Singapura juga menghadapi populasi yang menua dengan cepat, Thailand, yang merupakan ekonomi berpenghasilan menengah, berbeda dalam hal pembangunan, kekayaan, dan infrastruktur sosial," kata Prof Piyachart.

Tak jauh berbeda dengan negara lainnya, pemerintah Thailand mencoba meningkatkan lebih banyak kehamilan dengan tunjangan insentif untuk anak, proses kelahiran, perawatan anak, di seluruh wilayah. Bahkan, muncul ide untuk menggaet influencer soal promosi lebih banyak anak.

"Tapi rencana itu tidak berjalan," kata Direktur Biro Kesehatan Reproduksi Bunyarit Sukrat.

"Tidak semua orang dapat memahami jenis kehidupan yang dimiliki oleh para pemberi pengaruh ini."



Simak Video "Populasi Menurun dalam 60 Tahun, Generasi Muda China Enggan Berkeluarga"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT