Wamenkes Bicara 'Biang Kerok' Pandemi Tersembunyi, Kematian 2 Kali di Atas COVID

ADVERTISEMENT

Wamenkes Bicara 'Biang Kerok' Pandemi Tersembunyi, Kematian 2 Kali di Atas COVID

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Rabu, 30 Nov 2022 08:03 WIB
Blood cells, molecule of DNA forming inside the test tube. 3D illustration, conceptual image of science and technology.
Ilustrasi pandemi tersembunyi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/ktsimage)
Jakarta -

Resistensi antibiotik akibat mikroba (AMR) bisa sangat berpotensi menjadi silent pandemic atau pandemi. Pasalnya, angka kematian akibat hal ini sangat tinggi bahkan dua kali lipat dari COVID-19.

Wakil Menteri Kesehatan RI dr Dante Saksono Harbuwono mengatakan kematian itu disebabkan antibiotik yang tidak mempan lagi terhadap infeksi tertentu. Sejauh ini, ditemukan sebanyak 1,2 juta kematian akibat resistensi antibiotik ini.

"1,2 juta kematian itu terjadi karena antibiotik yang tidak mempan lagi terhadap infeksi tertentu," kata Wamenkes Dante yang dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI.

Resistensi antibiotik akibat mikroba terjadi karena protokol pengobatan yang sembarangan. Akibatnya, infeksi pada pasien bertambah parah dan ini yang menyebabkan angka kematian tinggi.

Resistensi antibiotik ini bisa berasal dari hewan dan tumbuhan. Untuk mencegah pandemi tersembunyi ini, pemerintah mendorong untuk membentuk aturan terkait penggunaan antibiotik.

Selain itu, Wamenkes juga menyoroti pendekatan one health dalam merespons masalah tersebut.

"Melalui pendekatan one health, di mana infeksi itu bisa berasal dari hewan, tumbuhan. Itu juga penting dilakukan karena ternyata banyak sekali penggunaan antibiotik pada hewan dan tumbuhan yang tidak rasional yang menyebabkan resistensi pada manusia," ungkap Wamenkes Dante.

"Tidak ada satu industri pun yang dapat menghadapi ancaman ini sendirian. AMR membutuhkan banyak partisipasi dari berbagai pemangku kepentingan," sambung dia.

Dikutip dari laman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, kasus resistensi mikroba secara global telah menyebabkan kematian sebanyak 1,27 juta orang di seluruh dunia dan hampir 5 juta kematian pada tahun 2019 lalu. Di AS, lebih dari 2,8 juta infeksi resisten antimikroba terjadi per tahunnya.

Dalam beberapa kasus, infeksi ini tidak memiliki pilihan pengobatan. Jika antibiotik dan antijamur kehilangan keefektifannya, manusia akan kehilangan kemampuan untuk mengobati infeksi dan mengendalikan ancaman kesehatan masyarakat.



Simak Video "Kapan Indonesia Cabut Status Darurat Covid-19?"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT