Lebih Mematikan dari COVID? Ini Wanti-wanti Pakar RI soal Pandemi Tersembunyi

ADVERTISEMENT

Lebih Mematikan dari COVID? Ini Wanti-wanti Pakar RI soal Pandemi Tersembunyi

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Rabu, 30 Nov 2022 06:33 WIB
3D illustration. Genetic test in test tube.
Ilustrasi pandemi tersembunyi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/ktsimage)
Jakarta -

Wakil Menteri Kesehatan RI dr Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan resistensi antibiotik akibat mikroba berpotensi menjadi pandemi tersembunyi atau silent pandemic. Ini terlihat dari jumlah kasus kematian akibat resistensi ini sangat tinggi.

Menurut Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba, dr Harry Parathon, SpOG(K), angka kematian akibat resistensi ini kemungkinan akan terus mengalami kenaikan. Bahkan jumlahnya bisa mencapai 10 juta kematian per tahunnya.

"Artinya untuk menuju 10 juta mungkin tidak perlu sampai 2050. Mungkin 2035 atau 2040 itu sudah 10 juta (kematian) kalau kita tidak berupaya melakukan action untuk menekan silent pandemic. Dia pelan-pelan korbannya ini, dan jumlahnya cukup tinggi," jelas dr Harry dalam Virtual Media Briefing 'Inovasi Sorbact Mencegah Resistensi Anti Mikroba (AMR) dalam Perawatan Luka', Selasa (29/11/2022).

"Kematiannya luar biasa, dari enam bakteri saja itu menimbulkan 3,5 juta manusia meninggal per tahun karena infeksi. Akibat dari enam bakteri ini saja," lanjutnya.

Masalah Lain Akibat Bakteri Resisten

Sejauh ini, kematian akibat bakteri resisten mencapai 4,9 juta per tahu. Bahkan, dr Harry mengatakan angka ini hampir dua kali lipat dari kasus kematian COVID-19 yakni sekitar 2,7 juta per tahun.

Selain itu, dr Harry mengingatkan kasus ini juga dapat menimbulkan masalah lainnya.

"Dan yang menjadi serius adalah pembiayaannya," tegas dr Harry.

Di Indonesia, biaya untuk pengobatan infeksi biasa atau belum sampai resisten bisa mencapai 18 juta rupiah. Sedangkan pada kasus infeksi bakteri resisten, biayanya bisa tiga kali lebih besar atau sekitar 53 juta rupiah.



Simak Video "Kapan Indonesia Cabut Status Darurat Covid-19?"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT