Pakar IDI Soroti Pandemi Superbug India, Penyakit Tak Mempan Dilawan Antibiotik

ADVERTISEMENT

Pakar IDI Soroti Pandemi Superbug India, Penyakit Tak Mempan Dilawan Antibiotik

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kamis, 13 Okt 2022 12:00 WIB
Antibiotik
Ilustrasi antibiotik. (Foto: iStock)
Jakarta -

Pakar kesehatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban ikut menyoroti laporan India yang menghadapi pandemi superbug usai infeksi bakteri tak mempan dilawan antibiotik. Total ada seribuan pasien yang tengah dirawat akibat antibiotik tak lagi efektif mengatasi sejumlah penyakit, tepatnya di RS Maharashtra.

Prof Zubairi menilai hal ini mengkhawatirkan lantaran dampaknya pasien memerlukan perawatan lebih lama akibat kebal atau resistensi antibiotik. Kemungkinan angka kematian juga disebutnya menjadi lebih tinggi.

Ia mewanti-wanti resistensi antibiotik bisa terjadi di mana saja. "Bisa di India, Amerika, Indonesia, dan ke siapa saja. "Tidak tergantung usia, artinya dari bayi baru lahir sampai usia lanjut ya berisiko resistan terhadap antibiotik," cuitnya dalam akun Twitter pribadi, dikutip detikcom atas izin yang bersangkutan Kamis (13/10/2022).

Karenanya, Prof Zubairi mengimbau masyarakat memperhatikan penggunaan antibiotik. Antibiotik wajib diberikan dengan resep dokter. "Kalau tidak ada indikasi dan resep dari dokter, ya jangan konsumsi, atau jangan juga melanjutkan resep antibiotik milik salah satu teman atau keluarga karena merasa punya penyakit yang sama," sebutnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus resistensi antibiotik ditemukan di India barat, banyak dokter berjuang melawan ruam infeksi superbug yang menyerang pasien dan tak bisa diobati dengan antibiotik.

Dinamakan superbug lantaran infeksi bakteri bisa 'lolos' dari antibiotik. Infeksi bakteri atau kuman yang dimaksud beragam, beberapa di antaranya seperti kuman penyebab penumonia yakni staphylococcus aureus dan acinetobacter baumannii, e coli dan klebsiella pneumoniae yang menyebabkan pasien harus dipasang ventilator.

"Resistan terhadap antibiotik ini sebetulnya masaiah natural. Artinya bakteri kan prinsipnya ingin tetap hidup, sehingga membuat dirinya memnjadi resistan terhadap antibiotik. Namun, yang menjadi masalah besar, ketika angka kejadiannya amat dipercepat oleh salah guna antibiotik,"

Salah guna menurutnya yakni penggunaan antibiotik tidak pada tempatnya. Misalnyam mengobati infeksi virus dengan antibiotik. Hal ini terjadi pada masa awal pandemi COVID-19, banyak pasien yang mendapat beragam antibiotik sehingga memicu perubahan dalam resistensi kuman.



Simak Video "Wamenkes soal 'Biang Kerok' Pandemi Tersembunyi"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT