Warga Ogah Punya Anak, Korsel Bakal Kasih Tunjangan 11 Juta Per Bulan

ADVERTISEMENT

Warga Ogah Punya Anak, Korsel Bakal Kasih Tunjangan 11 Juta Per Bulan

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Senin, 05 Des 2022 11:04 WIB
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)
Ilustrasi populasi di Korea Selatan. (Foto: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

Tingkat kesuburan di Korea Selatan disebut menjadi yang terendah di dunia. Rata-rata jumlah anak di Korea Selatan 0,79 yang artinya jauh di bawah angka minimal untuk mempertahankan populasi agar tetap stabil, yakni 2,1.

Pemerintah Korsel bahkan harus mengeluarkan dana lebih dari 200 miliar dollar AS selama 16 tahun terakhir untuk meningkatkan populasi. Jika ini terus terjadi, Korea Selatan bakal menghadapi kekurangan pekerja di tengah populasi yang kian menua.

Pemerintah Menaikkan Tunjangan

Melihat kondisi ini, pemerintah berencana akan menaikkan tunjangan yang diberikan untuk para orang tua. Saat ini, orang tua mendapatkan tunjangan hingga bayi berusia 1 tahun sebesar 300 ribu won atau sekitar 3,5 juta rupiah.

Untuk mengatasi ini, Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol berencana akan menaikkan tunjangan hingga 700 ribu won (sekitar 8,2 juta rupiah) di tahun 2023 dan 1 juta won (sekitar 11,8 juta rupiah) di 2024 mendatang.

Namun, para ahli mengungkapkan solusi yang ditawarkan pemerintah itu hanya akan menyasar satu dimensi saja. Sebab, anak tidak hanya cukup dilahirkan saja, tetapi juga harus dirawat.

Seperti halnya seorang ibu rumah tangga yang tengah hamil anak kedua, Kim Min-jeong. Ia mengaku tidak terlalu peduli akan janji pemerintah.

"Mereka telah mengganti nama dan menggabungkan tunjangan. Tetapi, untuk orang tua seperti kami, tidak ada manfaat lagi," tutur Kim yang dikutip dari CNN, Senin (5/12/2022).

Anak Muda Ogah Menikah

Di sisi lain, banyak anak muda di Korsel yang memilih untuk tidak menikah alias melajang. Penulis Lee Jin-song mengatakan ada sebuah lelucon yang berkembang di Korsel yang berkaitan dengan kondisi saat ini.

"Jika Anda tidak berkencan saat berusia 25 tahun, Anda akan berubah menjadi burung bangau, artinya jika Anda melajang, Anda bukan manusia lagi," kata dia.

Para anak muda di Korsel menganggap menikah dan memiliki anak akan menjadi tanggung jawab serta membutuhkan biaya yang besar. Bahkan pilihan ini dianggap banyak merugikan kaum wanita, apalagi di tengah budaya patriarki. Jadi, tidak heran jika para wanita mulai berpikir untuk tidak menikah.



Simak Video "Kata Ahli Gizi soal Viral Bayi Dikasih Kopi hingga BAB 9 Kali"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/vyp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT