Banyak Wanita Ogah Menikah, Korea Selatan Dibayangi 'Resesi Seks'

ADVERTISEMENT

Terpopuler Sepekan

Banyak Wanita Ogah Menikah, Korea Selatan Dibayangi 'Resesi Seks'

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Sabtu, 03 Des 2022 14:00 WIB
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)
Warga Korea Selatan dibayangi resesi seks. (Foto ilustrasi: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

Korea Selatan tengah dibayangi resesi seks, hingga mengubah gaya hidup pasangan suami istri di sana. Hal ini salah satunya dialami oleh pekerja kantoran yang baru saja menikah, Choi Jung-hee. Ia mengaku enggan memiliki anak.

Choi Jung-hee mengatakan dirinya sering mendengar cerita orang yang bahagia memiliki anak. Namun, ia tetap berniat untuk childfree atau tidak memiliki anak lantaran beban membesarkan anak juga cukup besar.

"Hidupku dan suamiku yang utama," cerita dia, kepada The Guardian.

"Kami menginginkan kehidupan yang menyenangkan bersama, dan sementara orang mengatakan memiliki anak dapat memberi kami kebahagiaan, itu juga berarti banyak waktu yang mungkin membuat kami merasa ingin menyerah," lanjut dia.

Fakta adanya perubahan gaya hidup pasutri Korea Selatan pun terlihat dari data proporsi keluarga dengan satu anak, yang totalnya melampaui 40 persen. Selain itu, jumlah pernikahan mencetak rekor terendah sepanjang masa juga merosot di 193 ribu pada tahun lalu.

"Di negara di mana separuh penduduknya sekarang percaya bahwa pernikahan bukanlah suatu keharusan. Beberapa, terutama wanita, memprioritaskan kebebasan pribadi dan dengan sengaja mengesampingkan pernikahan sama sekali."

Meski keinginan untuk childfree tinggi, budaya wanita yang diharapkan bisa sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga masih tinggi di negeri ginseng itu. Ini juga dipengaruhi upah gender di sana yang terburuk di Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Tak hanya gaya hidup, bayang-bayang resesi seks juga berpengaruh pada angka kelahiran bayi di Korea Selatan. Menurut data populasi Statistics Korea di 23 November, jumlah bayi yang baru lahir pada kuartal ketiga (Juli-September) adalah 64.085 anak, turun sebanyak 3,7 persen yakni 2.466 dari tahun ke tahun. Ini adalah level terendah sejak statistik disusun pada 1981.

Dari Januari hingga September, angka kelahiran bayi tercatat sebanyak 192.223, yang ternyata turun 15.582 dari tahun lalu yakni 202.805. Ini adalah pertama kalinya sejak statistik disusun bahwa jumlah bayi yang baru lahir turun di bawah 200.000.

"Jumlah bayi yang lahir telah menurun seiring dengan penurunan populasi wanita dan jumlah pernikahan yang terus menurun," kata Roh Hyung-joon, kepala divisi tren populasi di Statistics Korea.

"Selain itu, angka kelahiran menurun seiring bertambahnya usia melahirkan dan masa subur dipersingkat."



Simak Video "Populasi Menurun dalam 60 Tahun, Generasi Muda China Enggan Berkeluarga"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/vyp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT