Fakta-Fakta Resesi Seks yang Dialami 4 Negara Asia: Korsel sampai China

ADVERTISEMENT

Fakta-Fakta Resesi Seks yang Dialami 4 Negara Asia: Korsel sampai China

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Senin, 28 Nov 2022 19:01 WIB
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)
Resesi seks hantui Korea Selatan. (Foto: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

Korea Selatan tengah dihantui penurunan populasi karena warganya menolak untuk memiliki anak atau keturunan. Kondisi 'resesi seks' ini menyebabkan Korsel mengalami krisis demografis karena banyak wanita yang berhenti melahirkan.

Kondisi ini juga dialami oleh Korea Selatan. Negeri Ginseng ini hanya mencatat tingkat kesuburan 0,81 persen pada 2021 berdasarkan data pemerintah. Idealnya, satu negara harus memiliki tingkat kesuburan 2,1 persen untuk menjaga populasi.

Di negara tersebut, semakin banyak anak muda yang tidak mau menikah. Meski sudah berumahtangga, para wanita lebih memilih untuk tidak hamil.

Krisis populasi tak hanya terjadi di Korea Selatan. Penduduk di China, misalnya, juga menganggap menikah dan memiliki anak tak lagi menjadi prioritas sehingga terjadi penurunan populasi di negara tersebut.

Penyebab Resesi Seks

Sebagian besar anak muda di Korea Selatan merasa tidak berkewajiban untuk berkeluarga, seperti orang tua dan kakek-neneknya. Hal ini disebabkan ketidakpastian pasar kerja yang suram, perumahan yang mahal, ketidaksetaraan gender dan sosial, tingkat mobilitas sosial yang rendah, dan biaya besar untuk merawat anak dalam masyarakat yang kompetitif.

Terlebih banyak wanita di Korea Selatan yang mengeluhkan budaya patriarkal. Itu memaksa mereka melakukan banyak pengasuhan anak sambil menanggung diskriminasi di tempat kerja.

"Singkatnya, orang mengira negara kita bukanlah tempat yang mudah untuk ditinggali," kata Lee So-Young, pakar kebijakan kependudukan di Institut Korea untuk Urusan Kesehatan dan Sosial yang dikutip dari AP News.

"Mereka percaya anak-anak mereka tidak dapat memiliki kehidupan yang lebih baik daripada mereka, jadi mempertanyakan mengapa mereka harus bersusah payah untuk memiliki bayi," lanjut dia.

Efek Resesi Seks

Akibat resesi seks yang terjadi, angka kelahiran di Korea Selatan mencetak rekor terendah di dunia yakni 0,81. Berdasarkan data populasi Statistics Korea pada 23 November, jumlah bayi yang baru lahir di kuartal ketiga (Juli-September) sebanyak 64.085 anak.

Namun, angka itu turun sebanyak 3,7 persen yakni 2.466 dari tahun ke tahun. Ini merupakan level terendah sejak statistik disusun pada tahun 1981.

Jumlah bayi yang lahir dari bulan Januari hingga September sebanyak 192.223 turun 15.582 dari tahun lalu yakni sebesar 202.805. Ini pertama kalinya jumlah bayi yang baru lahir turun di bawah 200.000 sejak statistik disusun.

"Jumlah bayi yang lahir telah menurun seiring dengan penurunan populasi wanita dan jumlah pernikahan yang terus menurun," kata Roh Hyung-joon, kepala divisi tren populasi di Statistics Korea.

"Selain itu, angka kelahiran menurun seiring bertambahnya usia melahirkan dan masa subur dipersingkat."

Efeknya bisa sangat serius. Jika populasi Korsel terus menyusut, tidak bakal ada usia produtif yang bisa menggantikan 'aging population'. Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di negara.

NEXT: Strategi Baru Korsel untuk Atasi 'Resesi Seks'

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT