Bukan Bikin Manusia Jadi Mayat Hidup, Ini yang Dikhawatirkan Pakar soal Virus Zombie

ADVERTISEMENT

Bukan Bikin Manusia Jadi Mayat Hidup, Ini yang Dikhawatirkan Pakar soal Virus Zombie

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Selasa, 06 Des 2022 10:00 WIB
virus zombie
'Virus Zombie' (Foto: biorxiv.org)
Jakarta -

Peneliti Rusia, Prancis, dan German menemukan virus zombie di Permafrost atau lapisan tanah beku di Siberia, Rusia. Melalui studi yang dipublikasikan di BioRxiv, para peneliti telah 'menghidupkan kembali' dan mengelompokkan 13 patogen berusia lebih dari 48.500 tahun yang diberi nama virus zombie. Adapun tujuannya untuk menganalisis dampak kefatalan dan risiko yang diakibatkan dari virus tersebut.

Meskipun demikian, banyak masyarakat yang beranggapan virus zombie ini mirip seperti yang ada di film-film, yaitu merubah manusia menjadi zombie atau mayat hidup. Padahal, faktanya berbeda.

Menurut epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, nama virus zombie hanya istilah nama karena virus ini bisa hidup di dalam bekuan es selama ribuan bahkan ratusan ribu tahun.

Ia juga menjelaskan, penamaan patogen virus, bakteri, maupun jamur memiliki standar penamaan secara internasional seperti halnya SARS-CoV-2, penyebab pandemi COVID-19.

"Jadi virus zombie ini virusnya real, tapi istilahnya terlalu membuat orang jadi berasosiasinya ke arah menakutkan walaupun belum tentu. Jadi penamaan patogen dalam halnya bakteri atau virus, itu tidak seperti itu penamaannya," ucapnya saat dihubungi detikcom, Senin (5/12/2022).

Menurut Dicky, yang dikhawatirkan seharusnya bukan dari namanya, melainkan sifat dari virus tersebut yang ternyata bisa hidup kembali usai lama mati.

"Yang mengkhawatirkan sebetulnya dari temuan ini bahwa secara teoritis yang akan ada bukan hanya virus, bisa saja bakteri atau jamur yang hidup di era puluhan ribu, bahkan ratusan ribu tahun yang lalu dalam kondisi dormant (hidup kembali) dan berpotensi menginfeksi manusia," sambungnya lagi.

Kata Dicky, virus ini bisa saja berpotensi menginfeksi manusia meskipun peluangnya lebih kecil dan tak sebesar penyebaran virus dari hewan liar.

"Tapi catatannya meskipun kecil tapi tetap berdampak. Bahkan satu jenis virus seperti Corona Virus atau SARS CoV 2 yang sekarang menjadi pandemi kan juga cuma satu," imbuh Dicky.

"Jadi, meskipun kecil cuma satu, dua, tiga, atau satu sekalipun, tapi kalau dia mematikan, cepat menginfeksi, atau cepat menular membuat orang parah, itu kan tandanya serius," tuturnya lagi.



Simak Video "Seputar Temuan Virus Mirip Covid-19 pada Kelelawar di China Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT