RI Disebut Berpotensi Alami 'Resesi Seks' Bak Korsel-Jepang

ADVERTISEMENT

RI Disebut Berpotensi Alami 'Resesi Seks' Bak Korsel-Jepang

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Selasa, 06 Des 2022 14:08 WIB
Jubir Kemenkes Mohammad Syahril menyebutkan bahwa XBB maupun BQ.1 menyumbang lebih dari 20 persen penambahan kasus baru di Indonesia.
Resesi seks juga hantui Indonesia? Begini kata BKKBN. (Foto ilustrasi: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Korea Selatan belakangan melaporkan 'resesi seks' usai kembali mencetak rekor angka kelahiran terendah yakni 0,8. Gaya hidup pasangan suami istri berubah, 'mogok punya bayi'. Hal serupa juga dialami beberapa negara Asia lainnya seperti Jepang dan Singapura.

Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo, SpOG kemungkinan serupa 'resesi seks' di Indonesia bisa saja terjadi. Namun, prosesnya diyakini cukup panjang.

Sebagian besar penduduk Indonesia saat ini masih fokus dalam tujuan menikah untuk pro kreasi atau memiliki anak. Meski begitu, bukan tidak mungkin hal tersebut menghantui Tanah Air. Resesi seks dikaitkan dengan menurunnya gairah seseorang untuk melakukan hubungan seks, menikah, atau mempunyai anak. Dari ketiga aspek tersebut, persoalan di Indonesia yang mulai terlihat adalah mundurnya usia angka pernikahan.

"Potensi itu ada, ada ya, tapi sangat panjang, karena kan gini usia pernikahan semakin lama kan semakin meningkat. Pernikahan loh bukan seks," beber dr Hasto saat ditemui di Hotel Shangri La, Selasa (6/12/2022).


Rata-rata usia berhubungan seksual pertama disebutnya memang maju berada di usia 15 tahun, usai sebelumnya tercatat di 16-17 tahun. Namun, usia pernikahan mundur dan menandakan prioritasnya sudah bergeser.

"Usia pernikahan itu mundur, karena semakin menempuh studi, karier dan sebagainya," lanjutnya.

Menurut dr Hasto, saat ini sebagian orang memang terlihat sudah memilih menunda atau tidak memiliki anak. Misalnya wanita, mereka lebih mementingkan kesejahteraan dan keamanan kualitas hidup bersama suami.

Sementara pada pihak pria yang tidak memilih pro kreasi atau tujuan menikah dengan melahirkan anak, lebih mementingkan kebutuhan menyalurkan gairah seksual mereka. Hal-hal semacam itu tentunya disebut bisa berujung pada zero growth dan minus growth yang mengganggu angka ideal kelahiran.

"Jadi bisa saja terjadi minus growth atau zero growth sekarang ini kan beberapa daerah sudah minus growth zero growth seperti beberapa kabupaten di Jawa Timur Jawa Tengah minus growth jumlah anaknya sedikit," sambung dia.



Simak Video "Indonesia Dihantui Resesi Seks, Enggan Menikah dan Punya Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT