Respons Imun Lemah Jadi Penyebab Pasien Kanker Rentan COVID-19

ADVERTISEMENT

Respons Imun Lemah Jadi Penyebab Pasien Kanker Rentan COVID-19

Angga Laraspati - detikHealth
Senin, 23 Jan 2023 09:19 WIB
AstraZeneca
Foto: AstraZeneca
Jakarta -

Pasien kanker memiliki risiko lebih tinggi mengalami keparahan, perawatan di rumah sakit, dan kematian akibat COVID-19. Salah satu penyebabnya adalah kondisi respons imun pasien yang tidak lagi bekerja secara optimal sejak sel kanker menyerang tubuh mereka.

Kondisi itu dapat berasal baik dari sel kanker maupun efek samping dari terapi kanker. Karena itulah, tubuh pasien kanker yang termasuk dalam kelompok rentan kurang mampu melawan penyakit dan infeksi, termasuk virus penyebab COVID-19.

Dibutuhkan vaksin sebagai pencegahan penyakit menular pada penderita kanker. Dalam kondisi ideal, vaksin seharusnya mampu memicu sistem imun bawaan dan sistem imun adaptif.

Imunisasi yang efektif harus menginduksi stimulasi jangka panjang baik sistem imun humoral maupun seluler yang dimediasi oleh sistem adaptif dengan memproduksi sel efektor untuk infeksi saat ini maupun sel memori untuk infeksi di masa depan oleh agen patogen.

Berdasarkan penelitian recovery yang dirilis oleh Linardou et. al, terjadi perbedaan respons tubuh terhadap vaksin yang diberikan ke dua kelompok yakni kelompok pasien kanker dan kelompok orang sehat (controls).

Dokter Spesialis  Penyakit Dalam Konsultan Hemato-Onkologi Medik dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOMDokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hemato-Onkologi Medik dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM (Foto: AstraZeneca)

Hasilnya adalah respons imun para pasien kanker lebih rendah terhadap vaksin. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hemato-Onkologi Medik dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM mengatakan melihat fakta tersebut, terdapat kelompok pasien kanker yang berisiko belum mendapatkan perlindungan yang sama optimalnya dengan masyarakat sehat, bahkan setelah pemberian vaksin.

"Maka pada kelompok pasien tersebut, imunisasi pasif berupa antibodi monoklonal dapat menjadi opsi sebagai extra protection," ungkap dr. Jeffry dalam keterangan tertulis.

Untuk terlindungi dari COVID-19, selain menggunakan vaksin yang secara aktif dapat merangsang sistem imun untuk pembentukan antibodi, pada populasi tertentu khususnya pasien kanker dapat menempuh terapi imunisasi pasif seperti antibodi monoklonal yang mungkin dapat menjadi salah satu opsi bagi pasien tersebut untuk mendapatkan proteksi tambahan terhadap COVID-19.

Antibodi monoklonal menargetkan Spike Protein Virus COVID-19 sebagai pencegahan (Pre exposure Prophylaxis/PrEP) terhadap Infeksi SARS-CoV-2. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, antibodi monoklonal dapat mencegah terjadinya infeksi COVID-19 pada kelompok rentan, salah satunya adalah pasien kanker.

Di sisi lain, antibodi monoklonal dapat memberikan perlindungan jangka panjang hingga 6 bulan dan efektif melawan virus SARS Cov-2 yang telah bermutasi.



Simak Video "Vaksin Covid-19 Semprot Hidung AstraZeneca-Oxford Gagal Uji Coba "
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT