Kematian COVID-19 Melonjak, Ini Doa Warga China Saat Imlek

ADVERTISEMENT

Kematian COVID-19 Melonjak, Ini Doa Warga China Saat Imlek

Hana Nushratu - detikHealth
Senin, 23 Jan 2023 10:59 WIB
People wait to pray for good fortune outside Lama Temple in the morning on the first day of the Year of the Dog in Beijing, China February 16, 2018. REUTERS/Jason Lee
Doa warga China saat Imlek di tengah angka kematian COVID-19 yang melonjak. (Foto: Reuters)
Jakarta -

Di tahun ketiga pandemi COVID-19, warga China merayakan Tahun Baru Imlek pada Minggu (22/1/2022) dengan harapan mereka selalu diberikan kesehatan. Perayaan Imlek ini berlangsung di tengah-tengah kasus kematian COVID-19 yang melonjak tajam.

Antrean mengular di depan kuil Lama Beijing, yang berulang kali ditutup sebelum aturan COVID-19 dilonggarkan pada Desember 2022. Ribuan orang terlihat bergantian menunggu gilirannya untuk berdoa.

Salah satu warga Beijing yang bernama Fang (57), misalnya. Ia berdoa agar di tahun kelinci membawa 'kesehatan bagi semua orang'.

"Saya pikir gelombang pandemi ini sudah hilang," kata Fang dikutip dari Reuters, Senin (23/1/2023).

"Saya tidak tertular virus (COVID-19), tetapi suami saya dan semua orang di keluarga saya tertular. Saya masih menganggap penting untuk melindungi diri sendiri," lanjutnya.

Sebelumnya, para pejabat melaporkan hampir 13.000 kematian terkait COVID di rumah sakit antara 13 dan 19 Januari, menambah hampir 60.000 pada bulan sebelumnya. Pakar kesehatan China mengatakan gelombang infeksi di seluruh negeri telah mencapai puncaknya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China memperbarui jumlah kematian lantaran muncul keraguan terhadap transparansi data di Beijing. Selain itu, jumlah kematian sebelumnya terlalu rendah menurut standar global.

Kasus Kematian Melonjak

Zero-COVID yang digaungkan pada 7 Desember 2022 merupakan respons atas protes warga China terhadap lockdown dan pembatasan yang ketat. Imbasnya, rumah sakit dan rumah duka kewalahan setelah aturan tersebut diberlakukan.

Jumlah kematian yang dilaporkan oleh otoritas China tidak termasuk mereka yang meninggal di rumah. Di samping itu, beberapa dokter mengatakan mereka tidak disarankan untuk mencantumkan COVID-19 pada surat kematian.

Pengeluaran rumah duka untuk belanja kantong mayat hingga oven kremasi juga meningkat di berbagai provinsi di China.

Sejumlah ahli memperkirakan akan ada lebih dari 1 juta kematian pada tahun ini. Sementara itu, perusahaan data kesehatan yang berbasis di Inggris Airfinity, memperkirakan COVID-19 akan membunuh 36 ribu warga China setiap harinya.

Saat jutaan pekerja migran pulang ke rumah untuk merayakan Tahun Baru Imlek, pakar kesehatan sangat prihatin dengan orang-orang yang tinggal di pedesaan. Sebab, fasilitas medis di daerah pedesaan lebih buruk dibandingkan dengan yang ada di daerah pesisir.

Surat kabar resmi Partai Komunis China People's Daily melaporkan 110 juta perjalanan penumpang kereta api diperkirakan telah dilakukan selama 7-21 Januari. Angka tersebut naik 28 persen dari tahun ke tahun.

NEXT: Mobilitas warga saat Imlek

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT