Jepang-China Pusing Tangani Populasi Merosot, RI Dipastikan Belum 'Resesi Seks'

ADVERTISEMENT

Jepang-China Pusing Tangani Populasi Merosot, RI Dipastikan Belum 'Resesi Seks'

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kamis, 26 Jan 2023 11:00 WIB
Commuters rush to catch their trains at a subway station during the morning rush hour in Beijing on Monday, Nov. 14, 2022. The worlds population is projected to hit an estimated 8 billion people on Tuesday, Nov. 15, according to a United Nations projection.  (AP Photo/Andy Wong)
Ilustrasi populasi di China. (Foto: AP/Andy Wong)
Jakarta -

Negara Asia seperti Jepang dan China dibuat pusing lantaran warganya tidak ingin menikah dan memiliki anak. Fenomena 'resesi seks' ini muncul sejalan dengan tingkat populasi dan kelahiran baru di negara tersebut menurun drastis.

Jepang, misalnya, angka kelahiran di Jepang pada 2022 kurang dari 800 ribu. Selama ini, Jepang merupakan negara dengan populasi terbesar bagi lansia kedua di dunia setelah negara kecil Monaco.

Artinya, jika populasi terus menua maka tidak ada yang mendukung kebutuhan para lansia tersebut. Menurut Perdana Menteri Jepang Fushio Kishida, ini merupakan masalah yang harus diselesaikan sekarang atau tidak sama sekali.

"Memfokuskan perhatian pada kebijakan mengenai anak dan mengasuh anak adalah masalah yang tidak bisa menunggu dan tidak bisa ditunda," ujar Kishida.

Resesi seks tidak hanya terjadi di Jepang. Sejumlah negara seperti China, Korea Selatan, dan Singapura mengalami hal yang sama.

China, yang saat ini jumlah populasinya kedua terbanyak di dunia pun dilanda kekhawatiran yang sama. Kebijakan 'one child policy' atau satu anak cukup yang dilenggangkan pemerintah China ternyata berdampak cukup besar pada penurunan angka kelahiran.

Pemicu menyusutnya populasi di China disebut lantaran ada ketidakseimbangan jumlah laki-laki dan perempuan. Di beberapa kelompok umur, sekarang ada lebih dari 11 laki-laki untuk setiap 10 perempuan.

Beberapa survei mengungkap para wanita di China kini menganggap jumlah ideal memiliki anak adalah satu atau tidak sama sekali. Keengganan mereka memiliki anak juga diperparah dengan kebijakan lockdown selama pandemi COVID-19 lantaran ada pembatasan.

Next: Situasi di Indonesia

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT