Kementerian Kesehatan RI hingga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) buka suara kasus viral joget TikTok Jerome Polin dengan dua koas lulusan FKUI, yakni Ugiadam Farhan Firmansyah dan Ekida Firmansyah yang dinilai tidak empati.
Hal itu berkaitan dengan kalimat 'Mohon maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin' dalam video joget berjas putih mereka, lengkap dengan stetoskop. Banyak yang mengartikan maksud dari kalimat itu menyinggung momen krusial dalam praktik kedokteran saat pasien tak tertolong, meski Jerome dan Farhan mengaku tidak bermaksud demikian.
Walaupun video asli sudah di-takedown, beberapa akun mengunggah kembali postingan tersebut dan viral menjadi pembahasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ngeliatin nakes kelabakan berusaha nolongin mamaku pas di ICU bulan lalu sampai akhirnya dokter bilang kalimat di video ini. Rasanya pengen ng******* yang joget-joget pakai atribut nakes dan menyertakan kalimat itu," komentar salah satu netizen.
"Ngelihat kemarin pasien meninggal di depan mataku, dan bilang ke keluarganya kalo harus dilepas monitor dan O2 mask-nya and my supervisor literally said those words... and seeing this insensitive influencer making fun of it. Wow, no wonder everyone hates you," cuit yang lain.
Apa Kata Kemenkes?
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi berharap ada sosialisasi soal pentingnya menjaga etika bermedia sosial, khususnya bagi dokter dan calon tenaga dokter. Hal ini demi menjaga konten yang dimuat tidak berdampak buruk bagi publik hingga menimbulkan gaduh.
"Kami berharap institusi pendidikannya yang akan melakukan pembinaan," kata dr Nadia ketika dihubungi Rabu (1/3/2023).
Sebelumnya, Dekan FKUI Prof dr Ari Fahrial Syam juga memastikan tengah mempelajari kasus video viral joget TikTok tersebut, termasuk kemungkinan penegasan terkait tata krama yang diatur dalam SK kampus.
"Ya kami sedang mempelajari kasusnya, ada SK Dekan tentang Tata Krama kehidupan kampus, termasuk di dalamnya terkait bagaimana civitas akademika bermedia sosial," terang Prof Ari saat dihubungi detikcom baru-baru ini.
Ia juga berpesan agar setiap orang berhati-hati dalam membuat konten di media sosial, terlebih dalam kalimat di video viral yang bisa menimbulkan mispersepsi.
"Yang harus hati-hati adalah ketika kita menyampaikan suatu pernyataan yang menyatakan bahwa 'kami sudah memberikan upaya maksimal. Itu kan selalu di dalam practicenya di pelayanan kesehatan, kata-kata itu muncul ketika dokter berkomunikasi dengan keluarga pasien menyampaikan tentang kondisi pasien yang telah diupayakan di dalam mengatasi permasalahan namun kondisinya belum membaik atau bahkan memburuk," kata Prof Ari saat dihubungi detikcom, Minggu (26/2/2023).
"Kalau memang ada satu hal yang menimbulkan kontroversi, bisa viral dan menjadi macam-macam dampaknya," pungkas Prof Ari.
(naf/suc)











































