Catatan Penting Psikiater Jika 'Mentally Drained' saat Baca Broken Strings

Catatan Penting Psikiater Jika 'Mentally Drained' saat Baca Broken Strings

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Rabu, 14 Jan 2026 11:04 WIB
Catatan Penting Psikiater Jika Mentally Drained saat Baca Broken Strings
Foto: Instagram @aurelie
Jakarta -

Novel 'Broken Strings' karya Aurelie Moeremans belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Ceritanya yang emosional membuat banyak pembaca mengaku merasa mentally drained atau lelah secara mental setelah membaca halaman demi halamannya.

Spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ mengatakan mentally drained setelah membaca Broken Strings memang bisa-bisa saja terjadi dan memang sebaiknya kondisi ini jangan dilawan.

"Dalam psikologi trauma, memaksa diri 'kuat' justru bisa memperparah luka," kata dr Lahargo kepada detikcom saat dihubungi, Selasa (13/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa yang Harus Dilakukan?

Saat mengalami lelah mental, menurur dr Lahargo langkah paling singkat yang bisa diambil adalah berhenti membaca. Jika masih muncul ketidaknyamanan, bisa melakukan cara-cara lain.

"Lakukan grounding yaitu tarik napas pelan, sadari tubuh dan lingkungan. Jeda dari konten beberapa hari, kembali ke aktivitas yang membuat tubuh merasa nyaman, cerita ke orang yang dipercaya, jika gejala berat konsultasi ke profesional itu pilihan bijak, bukan berlebihan," katanya.

ADVERTISEMENT

Kelompok Paling Berisiko Lelah Mental

Menurut dr Lahargo, beberapa kelompok memang cenderung lebih berisiko mengalami lelah mental hingga ter-trigger, saat ikut 'masuk' ke dalam cerita Aurelie di bukunya yang membahas soal child grooming.

"Beberapa kelompok yang paling rentan, penyintas grooming, kekerasan seksual, atau manipulasi relasional. Luka yang mirip membuat memori lama mudah aktif kembali," kata dr Lahargo.

"Orang dengan trauma relasi, misalnya pernah di-gaslighting, dimanipulasi secara emosional, hubungan tidak setara atau power imbalance," sambungnya.

Selanjutnya, menurut dr Lahargo adalah orang yang memiliki empati tinggi, sehingga mereka lebih mudah 'masuk' ke cerita dan ikut merasakan emosi tokohnya.

"Orang yang sedang rapuh secara emosional, misalnya sedang burnout, depresi, cemas berat, sedang menghadapi konflik relasi, pembaca yang tidak menyadari punya luka lama, kadang baru sadar ada trauma setelah tubuh bereaksi," katanya.

Halaman 2 dari 2
(dpy/kna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads