Rasa Penting, Mindful Eating dengan Baca Label Nutrisi Lebih Penting

detikcom Leaders Forum

Rasa Penting, Mindful Eating dengan Baca Label Nutrisi Lebih Penting

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Sabtu, 06 Jun 2026 17:03 WIB
detikcom Leaders Forum
Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K. (Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto)
Jakarta -

Saat memilih makanan atau minuman, rasa yang lezat sering kali menjadi pertimbangan utama. Di tengah tren kuliner manis dan gurih yang ramai saat ini, tentu tidak cukup hanya berfokus pada rasanya.

Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K, menegaskan bahwa selain rasa, kesadaran penuh saat makan atau mindful eating jauh lebih krusial untuk menjaga kesehatan tubuh jangka panjang.

Menurutnya, edukasi tentang pentingnya mindful eating dan kebiasaan membaca label gizi membutuhkan kerja sama dari berbagai lini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi strateginya, yang pertama kita memang terus mengedukasi, dan itu tidak bisa hanya dari satu pelaku industri atau dari pemerintah. Tapi kita harus berkolaborasi, keluarga, orang tua itu juga harus membiasakan," kata dr Laurencia dalam acara detik Leaders Forum 'Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gendut', Jumat (5/6/2026).

ADVERTISEMENT

"Yang pertama itu mindful eating itu sangat penting. Jadi kita itu harus sadar penuh apa makanan yang masuk ke dalam tubuh kita," sambungnya.

Menurut dr Laurencia, mindful eating menuntut seseorang untuk benar-benar sadar dan kritis terhadap zat gizi apa saja yang dilewatkan ke dalam kerongkongan. Jadi, tidak hanya berfokus pada rasa yang enak, tetapi juga harus mengetahui kandungannya untuk bisa mengetahui batas aman dalam mengonsumsi sesuatu.

"Jadi rasa tetap prioritas, tapi juga kita tahu jumlahnya yang masuk juga harus diperhatikan," tegasnya.

detikcom Leaders Forumdetikcom Leaders Forum membahas 'hidden sugar'. Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto

Kesadaran Baca Label Gizi

Sebagai bagian dari pelaku industri, dr Laurencia menyebut pihaknya terus mendorong konsumen agar selalu memeriksa Tabel Informasi Nilai Gizi sebelum menyantap produk pangan olahan.

"Kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat, bahwa setiap kali mau makan makanan siap saji yang sudah dalam kemasan, itu harus melihat nutrition facts," tuturnya.

Sayangnya, perilaku ideal ini masih menjadi tantangan yang besar di Indonesia. Banyak orang yang masih abai terhadap label peringatan yang sebenarnya sudah disediakan oleh produsen atas arahan regulator.

Sebenarnya, lanjut dr Laurencia, label nutrisi tersebut sudah diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Kenapa sih setiap makanan ada nutrition fact-nya? Ya karena supaya kita tahu apa yang masuk ke dalam tubuh apa saja sih," sesal dr Laurencia.

Padahal, di dalam kotak nutrition fact tersebut, seluruh informasi mengenai zat gizi makro hingga mikro sudah dikupas secara transparan. Selain itu, kandungan gula yang termasuk dalam karbohidrat, mikronutrien, vitamin, hingga mineral dijelaskan dalam tabel tersebut.

Menurut dr Laurencia, hal ini sangat bermanfaat untuk bisa mengetahui jumlah batasan yang aman dalam mengonsumsi suatu produk.

"Misalnya kita makan wafer, kita makan 4 keping wafer sudah mengandung berapa kalori itu kita bisa tahu, karbohidratnya berapa, proteinnya berapa," bebernya.

Minimnya kepedulian pembaca terhadap label inilah yang dituding menjadi salah satu pemicu utama mengapa asupan gula harian seseorang kerap kali bablas tanpa disadari.

"Memang awareness atau kepedulian masyarakat Indonesia untuk melihat nutrition facts itu masih sangat rendah, sehingga mereka kadang-kadang mengonsumsi gula pun bisa berlebih. Padahal, sebenarnya itu di 5 sendok makan per hari," terang dr Laurencia.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Menggendut Cuma Gara-gara Kecap Sesendok?"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads