Tak Semua UPF Dikaitkan Risiko Kanker Usus Lebih Tinggi, Ini Temuan Studi

Tak Semua UPF Dikaitkan Risiko Kanker Usus Lebih Tinggi, Ini Temuan Studi

Elmy Tasya Khairally - detikHealth
Sabtu, 17 Okt 2026 11:09 WIB
A woman choosing canned dog or cat food at a pet store, reading the label. Customer compares wet dog or cat food in the aisle with various canned foods on the shelves. Concept of responsible pet owner
Foto: Getty Images/Pavel Herasimau
Jakarta -

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine pada 15 Oktober menemukan bahwa konsumsi makanan ultra-proses secara keseluruhan tidak berkaitan dengan angka kejadian kanker kolorektal. Meski demikian, hasilnya berbeda ketika peneliti menganalisis jenis makanan tertentu.

UPF mencakup berbagai produk, seperti biskuit kemasan, mi instan, minuman manis, daging olahan, dan keripik. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa label UPF saja tidak cukup untuk menjelaskan kaitan suatu makanan dengan risiko kanker usus. Kandungan nutrisi dan jenis bahan yang terdapat dalam makanan tersebut juga tampaknya berperan penting.

Konsumsi biji-bijian utuh dan produk susu yang berasal dari kelompok UPF dalam jumlah lebih tinggi dikaitkan dengan angka kejadian kanker kolorektal yang lebih rendah. Sebaliknya, konsumsi daging olahan dari kelompok UPF dikaitkan dengan risiko kanker kolorektal yang lebih tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Temuan kami mendukung panduan pola makan saat ini untuk mengonsumsi biji-bijian utuh, serat, produk susu, dan kalsium serta menghindari daging olahan untuk mencegah kanker kolorektal," tulis para peneliti.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa mengganti sebagian konsumsi makanan ultra-proses dengan makanan yang minim pengolahan berkaitan dengan penurunan angka kejadian kanker usus.

ADVERTISEMENT

"Mengganti 10% asupan makanan ultra-olahan Anda dengan makanan yang diproses seminimal mungkin dikaitkan dengan penurunan kejadian kanker usus sebesar 2%," kata salah satu peneliti, Erikka Lotfield, dikutip dari laman Conversation.

Penelitian ini menggunakan data 461.682 orang dewasa berusia 50-71 tahun yang dipantau selama sekitar 18 tahun. Kebiasaan makan peserta, termasuk konsumsi makanan ultra-proses, diperkirakan melalui kuesioner frekuensi makanan.

Namun, peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan karena menggunakan metode observasional. Dengan demikian, hasilnya menunjukkan hubungan antara konsumsi makanan dan kejadian kanker, tetapi tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat.

Peneliti juga mengingatkan bahwa hasil penelitian tersebut belum tentu berlaku untuk populasi yang lebih muda dan lebih beragam. Peserta penelitian sebagian besar merupakan warga Amerika Serikat berkulit putih berusia lebih tua, sementara konsumsi makanan ultra-proses hanya diukur satu kali pada awal penelitian.

Kanker Kolorektal Meningkat pada Kelompok Usia Muda

Menurut American Cancer Society, kanker kolorektal menjadi penyebab kematian akibat kanker nomor satu pada orang berusia di bawah 50 tahun di Amerika Serikat pada 2026. Posisinya meningkat dari urutan kelima pada awal 1990-an.

"Kami tidak menyangka kanker kolorektal akan meningkat hingga tingkat ini dengan begitu cepat. Namun, kini jelas bahwa penyakit ini tidak bisa lagi disebut sebagai penyakit orang tua," kata Dr Ahmedin Jemal, wakil presiden senior bidang surveilans, pencegahan, serta penelitian layanan kesehatan di American Cancer Society, dalam rilis pada Januari.



(elk/naf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads