Konsumsi UPF Bisa Tingkatkan Risiko Stroke? Ini Temuan Studi

Konsumsi UPF Bisa Tingkatkan Risiko Stroke? Ini Temuan Studi

Elmy Tasya Khairally - detikHealth
Rabu, 21 Okt 2026 07:05 WIB
Woman reaching for a donut from a table full of junk food, showing signs of sugar cravings, overeating, and unhealthy eating habits
Foto: Ilustrasi UPF (Getty Images/Doucefleur)
Jakarta -

Ultraprosessed food seringkali dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan yang terkait dengan pencernaan. Kini, sebuah studi juga mengaitkan makanan tersebut dengan kesehatan otak.

Dikutip dari laman NYPost, sebuah studi yang dilakukan oleh para meneliti Kanada menemukan keterkaitan antara konsumsi UPF dengan peningkatan risiko stroke serta masalah memori di masa depan pada orang dewasa yang sehat. Studi yang diterbitkan dalam JAMA Network Open pada 15 Oktober 2026 ini melibatkan peserta berusia 35 hingga 69 tahun.

Dengan menggunakan pemeirksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk memeriksa otak sekitar 9.000 peserta, para peneliti menemukan area kecil kerusakan otak yang lebih umum terjadi pada orang yang mengonsumsi UPF dalam jumlah besar, seperti soft drink, camilan kemasan, dan sereal sarapan yang manis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka yang mengonsumsi UPF dalam jumlah tertinggi kemungkinan 40 persen lebih besar menunjukkan perubahan pada otak yang bisa tak terdeteksi, karena tidak menimbulkan gejala yang jelas. Kendati demikian, perubahan otak Ini bisa menjadi tanda peringatan dini beberapa tahun sebelum terjadinya stroke atau masalah ingatan. Menurut penulis utama dalam studi ini, Russel J. De Souza, temuan ini tak terduga.

ADVERTISEMENT

"Biasanya, kerusakan semacam ini dikaitkan dengan kondisi yang kita dengar dan obati pada usia yang jauh lebih tua," kata de Souza kepada Medical Xpress.

Dia mencatat bahwa penelitian tersebut berfokus pada warga Kanada usia menengah yang tidak memiliki masalah jantung dan tidak melaporkan masalah kesehatan lainnya.

Studi ini menemukan adanya hubungan yang lebih kuat secara keseluruhan antara konsumsi UPF dan kerusakan otak di antara peserta perempuan. Peserta wanita dalam konsumsi UPF tertinggi memiliki kemungkinan hampir dua kali lipat untuk menunjukkanl tanda-tanda kerusakan otak dibandingkan dengan peserta yang berada dalam kelompok konsumsi UPF terendah.

"Temuan kami menunjukkan bahwa hubungan antara diet dan kesehatan otak mungkin dapat dideteksi sebelum orang mengalami masalah yang nyata dengan ingatan atau kemampuan berpikir," kata penulis senior studi, Sonia Anand.

Bagi peserta studi tersebut, UPF rata-rata menyumbang sekitaran 25 persen dari asupan makanan harian. Makanan utuh seperti buah-buahan, savuran, dan biji-bijian mencakup 41 persen dari asupan harian bagi peserta yang banyak mengonsumsi UPF dan 68 persen bagi peserta yang paling sedikit mengonsimsinya.

Meski demikian, sebab peserta hanya dievaluasi sekali dan titan ditindaklanjuti di masa mendatang, para peneliti tidak bisa menentukan bahwa penyebab langsung dari perubahan di otak adalah konsumsi UPF.

"Kita membutuhkan studi jangka panjang yang melacak orang dari waktu ke waktu dengan pemindaian MRI berulang untuk mengetahui apakah mengurangi asupan makanan ultra-olahan dapat memperlambat atau mencegah perubahan otak ini," kata de Souza, menambahkan bahwa penelitian lanjutan sedang dalam proses.



(elk/kna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads