Barbara sendiri mengakui sejak kecil dirinya memang sudah gemuk. Sang ibu bahkan pernah membawanya ke dokter saat ia masih berusia 6 tahun untuk menurunkan berat badannya. Sesaat setelah bobotnya berhasil turun, Barbara kembali pada pola makannya yang tak sehat. Akibatnya, saat beranjak dewasa ia hanya kuliah 2 tahun dan tak melanjutkannya kembali karena tak tahan dengan ejekan dari teman-teman di kampus.
Selanjutnya ia bekerja di sebuah kasino yang dimulai dari pukul 8 malam sampai pukul 4 pagi, sehingga membuatnya hanya tidur sepanjang hari. Kondisi ini juga sering membuatnya merasa kelelahan dan hal tersebut menjadi alasan baginya untuk memanjakan diri dengan makanan-makanan tak sehat seperti pizza, ayam goreng, dan junk food lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingin menunjukkan pada dia bahwa saya bisa menjadi seperti wanita lain. Termotivasi dengan rasa marah, sedih, dan frustasi, saya memulai program diet saya," ungkap Barbara, seperti dikutip dari Huffington Post, Rabu (6/11/2013).
Barbara memulai program penurunan berat badannya dengan latihan pilates. Ia juga menghilangkan kebiasaan makannya yang tak sehat. Ia hanya mau makan dengan makanan yang tidak digoreng, sayuran dan buah. Jika biasanya ia sarapan dengan pizza, kini ia hanya sarapan dengan sereal dan susu. Sementara untuk makan siang, Barbara mengurangi porsinya dan untuk makan malam ia memilih ikan tuna.
"Dulu saya tidak pernah menghitung kalori saat makan, kini saya terbiasa memeriksa kandungan nutrisi yang ada di kemasan makanan apapun yang saya makan agar saya tahu berapa banyak nutrisi yang masuk ke dalam tubuh saya," tutur Barbara.
Kini bobot Barbara stabil di angka 66 kg dan ia cukup puas atas usaha kerasnya selama ini. Baginya perubahan bentuk tubuh ini tak hanya membuatnya percaya diri, tetapi juga membantunya beraktivitas. Ia mengaku senang karena kini tak lagi merasa kesulitan saat harus naik turun tangga.
(ajg/)










































