Alhasil Antariksa mencari-cari cara untuk bisa menurunkan berat badan dan membentuk proporsi tubuhnya menjadi lebih proporsional. Pilihannya pun jatuh pada mengubah pola makan dan mulai olahraga. Sukses! Bobotnya berhasil turun 31 kg menjadi 64 kg. Berikut kisahnya seperti ditulis detikHealth pada Kamis (30/4/2015):
Berawal dari ejekan teman-teman, saya berpikir untuk menurunkan berat badan. Berat badan saya waktu itu, yaitu kelas 9 SMP yaitu 95 kg. Di umur saya yang sangat muda, saya merasa sangat tidak wajar memiliki berat seberat ini. Hal ini tentu membuat saya tidak percaya diri dan menjadi halangan di setiap aktivitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana tidak naik berat badan saya jika setiap porsi makan saat itu hampir sama dengan 2 orang contohnya seperti nasi goreng 2 bungkus dan terlebih lagi saya sangat menggemari junk food. Ngemil juga menjadi bagian yang tak terpisahkan di sela waktu turut memberi kontribusi bagi berat badan saya.
Sadar akan kesehatan yang menghantui para orang gendut saya pun mulai berpikir untuk melakukan diet, diet yang saya coba beragam dan yang paling ekstrem yaitu diet tanpa nasi diganti dengan kentang rebus dan semua lauk pauk. Saya juga berhenti mengonsumsi gorengan, memperbanyak konsumsi sayur dan buah hingga 1 bulan. Alhasil bobot saya saat itu turun hingga 85 kg.
Sayangnya saya orangnya mudah bosan sehingga saya sering berganti metode diet, dengan catatan saya harus fokus di setiap metode diet yang dijalani dan dibarengi olahraga. Berdasarkan pengalaman berganti-ganti diet ini saya berpendapat bahwa apabila dalam metode diet sudah berada pada kondisi stagnan itu pertanda untuk berganti metode diet guna mencegah rasa bosan pada diri kita.
'Safari' metode diet ini menurut saya efektif karena ada saatnya tubuh akan terbiasa dengan diet yang itu-itu saja dan pelaku diet pun akan bosan dan cenderung mudah tergoda dengan makanan di luar dietnya. Berganti-ganti metode diet ini pun akhirnya sukses hingga membawa ke berat badan saya menyentuh 75 kg dalam kurun waktu 7,5 bulan.
Setelah menyentuh 75 kg ini pun saya tidak cepat puas target saya selanjutnya yaitu membentuk badan atletis. Akhirnya saya putuskan untuk bergabung di gym dan akhirnya ketagihan. Manfaat berlatih angkat beban saya rasakan sangat signifikan. Selain lebih energik, ada bonus yang tak dapat ditolak yaitu badan atletis.
Latihan di gym juga menurut saya efektif dalam segi waktu karena tidak terikat waktu dan lebih fleksibel. Sekarang berat badan saya 64 kg dan program saya sekarang lebih kepada menaikan masa otot dan mengurangi lemak tubuh dengan asupan makanan tinggi protein dan serat. Untuk menjaga berat badan dan massa otot, kebutuhan protein harus dipenuhi dengan skala 3 kali berat badan serta kebutuhan serat harian harus saya penuhi minimal 40 gram.
(Ajeng Anastasia Kinanti/AN Uyung Pramudiarja)











































