Tim peneliti dari Gladstone Institute mengemukakan bahwa diet yang menekankan pola makan rendah kalori dan karbohidrat itu dapat memicu dihasilkannya sebuah senyawa yang memainkan peranan penting dalam menunda proses penuaan.
Jika konsentrasinya rendah, senyawa bernama beta-hydroxybutyrate (beta-OHB) atau 'ketone body' ini dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari stres oksidatif yang berkontribusi terhadap proses penuaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalahnya ketika menua, sel-sel tubuh tak lagi efektif dalam membersihkan molekul-molekul radikal bebas ini sehingga mengakibatkan kerusakan sel, stres oksidatif dan dampak penuaan. Namun peneliti menemukan bahwa beta-OHB benar-benar mampu membantu menunda proses ini.
"Kami menemukan bahwa beta-OHB, salah satu sumber energi utama tubuh ketika berolahraga atau berpuasa, dapat menghambat terbentuknya enzim yang mendorong munculnya 'stres oksidatif' dan melindungi sel-sel dari penuaan," tandas peneliti Eric Verdin seperti dikutip dari zeenews, Senin (10/12/2012).
Temuan ini diperoleh tim peneliti setelah melewati serangkaian percobaan yang melibatkan sejumlah partisipan yang diminta melakukan diet pembatasan kalori kronis. Dari situ terlihat bahwa pembatasan kalori ini memicu produksi beta-OHB yang dapat menghambat aktivitas sekelompok enzim yang disebut histone deacetylase atau HDAC.
Usut punya usut, ternyata secara normal keberadaan HDAC ini 'berfungsi' mematikan sepasang gen yang bernama Foxo3a dan Mt2. Tapi dengan meningkatnya kadar beta-OHB, senyawa ini dapat menghambat HDAC melakukan hal itu atau dengan kata lain sepasang gen tadi akhirnya menjadi aktif. Padahal sekali diaktifkan, keduanya dapat memulai sebuah aktivitas untuk membantu sel tubuh melawan kepungan stres oksidatif.
"Terobosan ini juga memperluas pemahaman kita tentang mekanisme di balik HDAC yang telah lama diketahui keterlibatannya dalam proses penuaan dan berbagai penyakit neurologis seperti Alzheimer, Parkinson, autisme dan penyakit akibat cedera otak traumatis yang selama ini hanya memiliki sedikit alternatif pengobatan," timpal peneliti lain, Katerina Akassoglou.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Science.
(vit/vit)











































