Studi yang dilakukan oleh anggota EHE International Medical Advisory Board, Dr. Andrew Rundle ini menekankan bahwa BMI di atas normal berarti orang yang bersangkutan memang benar-benar memiliki risiko gangguan kesehatan tertentu, meski sebelumnya metode ini menimbulkan banyak kontroversi.
Untuk studi ini, Rundle dan rekan-rekannya mengukur tinggi dan berat badan, ukuran lingkar pinggang, persentase lemak tubuh, tekanan darah, kadar kolesterol dan kadar gula darah 12.000 partisipan saat berpuasa yang tergabung dalam database EHE.
Hasilnya, BMI dilaporkan dapat dijadikan alat prediksi utama untuk mengetahui risiko kolesterol tinggi dan hipertensi meski rasio pinggang ke pinggul (waist to hip ratio) dikatakan lebih kuat memprediksi peningkatan gula darah sebagai salah satu gejala pra-diabetes atau diabetes. Namun temuan ini terlihat konsisten terhadap berbagai jenis ras dan etnis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kesimpulan data kami mendukung para dokter untuk membuat rekomendasi agar pasien melakukan pengujian dan pengobatan lebih lanjut berdasarkan pengukuran BMI yang lebih sederhana tapi akurat, para pasien pun lebih sepakat dengan metode ini," timpal Rundle.
(/)











































