Walau Banyak Dijalani, Metode Penurunan Berat Badan Ini Berbahaya

Walau Banyak Dijalani, Metode Penurunan Berat Badan Ini Berbahaya

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Selasa, 03 Sep 2013 15:03 WIB
Walau Banyak Dijalani, Metode Penurunan Berat Badan Ini Berbahaya
ilustrasi (Foto: Think Stock)
Jakarta - Menggemukkan badan tak semudah membalikkannya. Pada orang yang sudah terlanjur mengalami obesitas atau kegemukan, butuh upaya yang cukup keras agar berat badan ideal dapat tercapai. Berbagai macam upaya pun dicoba, walau taruhannya nyawa.

Beberapa tahun belakangan, bisnis diet dan penurunan berat badan berkembang cukup pesat. Berbagai metode pun diciptakan, namun belum ada yang berani menjamin 100 persen khasiatnya. Yang terbukti berbahaya malah mudah ditemui dan banyak dilakukan.

Seperti dilansir Fox News, Selasa (3/9/2013), metode-metode berbahaya yang sebaiknya jangan dicoba tersebut antara lain:

1. Makan Lewat Selang

ilustrasi (Foto: Getty Images)
Prosedur ini sebenarnya hanya digunakan untuk merawat pasien yang tidak bisa makan karena sakit atau cedera. Namun demi menurunkan berat badan secara cepat, 'pasien' yang berniat mencoba akan diberi selang yang dimasukkan lewat hidung menuju kerongkongan dan bermuara ke perut.

Selang tersebut dibiarkan berada di sana sepanjang hari selama 10 hari. Pasien dilarang makan lewat mulut dan hanya mendapat asupan makanan lewat selang dengan komposisi protein dan karbohidrat yang sudah ditentukan. Kandungannya sekitar 800 kalori per hari.

2. Drunkorexia

ilustrasi (Foto: Getty Images)
Drunk artinya mabuk. Maka drunkorexia sebenarnya adalah istilah yang mengacu pada cara menurunkan berat badan dengan berpesta alkohol. Caranya adalah minum berlebihan sampai muntah untuk mengeluarkan kelebihan makanan pada hari sebelumnya dan membuat tubuh kelaparan keesokannya.

Jelas, metode ini memiliki risiko bahaya ganda karena mabuk dan kelaparan, misalnya kesulitan berkonsentrasi dan membuat keputusan, melemahkan sistem kekebalan tubuh, hingga keracunan alkohol. Di AS, tren ini tak hanya dilakukan oleh para mahasiswa saja, tapi juga di kalangan wanita berusia 20-an hingga 40-an.

3. Melaparkan Diri

ilustrasi (Foto: Getty Images)
Untuk dapat berfungsi dengan normal, tubuh membutuhkan sumber energi. Selain itu, sel-sel tubuh juga selalu rusak, berganti, dan membutuhkan perbaikan untuk beregenerasi. Oleh karena itu, makanan seperti protein dan lemak sehat diperlukan untuk menjaga kesehatan.

Jika makanan yang dikonsumsi kurang dari jumlah yang dibutuhkan, muncullah efek samping berbahaya. Kondisi hampir kelaparan saja, di mana tubuh mendapat kurang dari sekitar 1.000-1.200 kalori per hari, sudah dapat menyebabkan kelelahan, depresi, kerusakan jaringan tulang, melemahnya sistem kekebalan tubuh, dan ketidakseimbangan hormon.

4. Merokok

ilustrasi (Foto: Getty Images)
Sampai saat ini, masih ada saja orang yang meyakini bahwa merokok dapat menurunkan berat badan, walau sudah menyadari bahayanya bagi kesehatan. Memang benar bahwa merokok dapat menekan nafsu makan dan sedikit meningkatkan metabolisme, tapi risiko kesehatan yang ditanggung lebih besar.

Bahkan para ahli memperkirakan risiko kesehatan akibat menghisap asap tembakau ini setara dengan orang yang mengalami peningkatan berat badan hingga 450 kg. Belum lagi dampaknya terhadap penuaan kulit.

5. Obat Stimulan

ilustrasi (Foto: Getty Images)
Amat banyak ditemui pria dan wanita yang jatuh dalam perangkap menggunakan obat perangsang untuk maenurunkan berat badan. Namun apa yang terjadi? Mereka malah menjadi kecanduan dan berakhir di panti rehabilitasi.

Walau tak sampai mencandu, obat stimulan tanpa resep, apalagi yang ilegal, berisiko menyebabkan efek samping seperti menurunkan konsentrasi, memicu orang menjadi impulsif, mengubah suasana hati, menaikkan tekanan darah, menyebabkan kejang, dan stroke.
Halaman 2 dari 6
Prosedur ini sebenarnya hanya digunakan untuk merawat pasien yang tidak bisa makan karena sakit atau cedera. Namun demi menurunkan berat badan secara cepat, 'pasien' yang berniat mencoba akan diberi selang yang dimasukkan lewat hidung menuju kerongkongan dan bermuara ke perut.

Selang tersebut dibiarkan berada di sana sepanjang hari selama 10 hari. Pasien dilarang makan lewat mulut dan hanya mendapat asupan makanan lewat selang dengan komposisi protein dan karbohidrat yang sudah ditentukan. Kandungannya sekitar 800 kalori per hari.

Drunk artinya mabuk. Maka drunkorexia sebenarnya adalah istilah yang mengacu pada cara menurunkan berat badan dengan berpesta alkohol. Caranya adalah minum berlebihan sampai muntah untuk mengeluarkan kelebihan makanan pada hari sebelumnya dan membuat tubuh kelaparan keesokannya.

Jelas, metode ini memiliki risiko bahaya ganda karena mabuk dan kelaparan, misalnya kesulitan berkonsentrasi dan membuat keputusan, melemahkan sistem kekebalan tubuh, hingga keracunan alkohol. Di AS, tren ini tak hanya dilakukan oleh para mahasiswa saja, tapi juga di kalangan wanita berusia 20-an hingga 40-an.

Untuk dapat berfungsi dengan normal, tubuh membutuhkan sumber energi. Selain itu, sel-sel tubuh juga selalu rusak, berganti, dan membutuhkan perbaikan untuk beregenerasi. Oleh karena itu, makanan seperti protein dan lemak sehat diperlukan untuk menjaga kesehatan.

Jika makanan yang dikonsumsi kurang dari jumlah yang dibutuhkan, muncullah efek samping berbahaya. Kondisi hampir kelaparan saja, di mana tubuh mendapat kurang dari sekitar 1.000-1.200 kalori per hari, sudah dapat menyebabkan kelelahan, depresi, kerusakan jaringan tulang, melemahnya sistem kekebalan tubuh, dan ketidakseimbangan hormon.

Sampai saat ini, masih ada saja orang yang meyakini bahwa merokok dapat menurunkan berat badan, walau sudah menyadari bahayanya bagi kesehatan. Memang benar bahwa merokok dapat menekan nafsu makan dan sedikit meningkatkan metabolisme, tapi risiko kesehatan yang ditanggung lebih besar.

Bahkan para ahli memperkirakan risiko kesehatan akibat menghisap asap tembakau ini setara dengan orang yang mengalami peningkatan berat badan hingga 450 kg. Belum lagi dampaknya terhadap penuaan kulit.

Amat banyak ditemui pria dan wanita yang jatuh dalam perangkap menggunakan obat perangsang untuk maenurunkan berat badan. Namun apa yang terjadi? Mereka malah menjadi kecanduan dan berakhir di panti rehabilitasi.

Walau tak sampai mencandu, obat stimulan tanpa resep, apalagi yang ilegal, berisiko menyebabkan efek samping seperti menurunkan konsentrasi, memicu orang menjadi impulsif, mengubah suasana hati, menaikkan tekanan darah, menyebabkan kejang, dan stroke.

(pah/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads