Dilansir Huffington Post, Jumat (1/11/2013), sebuah studi terbaru yang melibatkan lebih dari 23.000 responden menunjukkan bahwa mengonsumsi jumlah serat lebih rendah dalam diet membuat mereka berisiko tinggi untuk menjadi obesitas. Tak hanya itu, mereka yang kurang konsumsi serat juga cenderung lebih berisiko mengalami sindrom metabolik dan peradangan kardiovaskular.
"Temuan kami menunjukkan bahwa dari sejumlah responden tersebut, total tingkat asupan seratnya masih sangat rendah dibandingkan dengan yang direkomendasikan. Ini berarti konsumsi serat masih belum terlalu dianggap penting," kata salah seorang peneliti, Cheryl R. Clark, MD, Sc.D., dari The Center for Community Health and Health Equity, Brigham and Women's Hospital, dan Harvard Medical School.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsumsi cukup serat tidak hanya akan memperbaiki sistem pencernaan dan membantu menurunkan berat badan, tetapi juga melindungi jantung dan mengurangi risiko stroke.
Makanan seperti buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan tinggi akan serat. Sebuah cangkir raspberry mengandung 8 gram serat, sebuah apel dengan kulit memiliki 4,4 gram serat, dan secangkir lentil memiliki 15,6 gram serat.
(ajg/)











































