Selain dari rasa, sifat asam dan basa makanan ini juga tidak dipengaruhi oleh warna maupun bentuknya. Sifat asam dan basa masing-masing bisa dideteksi dari kandungan berbagai bahan pembentuk makanan tersebut.
"Setiap kali makanan dicerna dalam tubuh kita akan meninggalkan residu, nah abu mineralnya itu yang dipakai untuk tahu apakah termasuk asam atau basa. Makanan pembentuk asam akan meninggalkan residu logam sulfur dan fosfor. Jadi ya nggak ada hubungannya dengan rasa makanan sama sekali," ujar Andang Widhawari Gunawan, ahli terapi nutrisi, saat ditemui detikHealth di kediamannya yang berada di kawasan Lebak Bulus, Jakarta, dan ditulis pada Senin (23/12/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara karbohidrat atau hidrat arang yang biasa terdapat pada makanan pokok menjadi makanan pembentuk asam dalam tubuh. Misalnya nasi kentang, jagung, sagu, ubi, mie, daging sapi, daging unggas, daging kambing, ikan, dan susu.
"Tidak perlu repot dihafalkan, yang penting hampir semua sayuran dan buah yang tinggi kandungan airnya itu adalah makanan pembentuk basa dan semua makanan yang tinggi protein termasuk dalam makanan pembentuk asam," tutur Andang. Lantas benarkah jika terlalu banyak konsumsi makanan pembentuk asam buruk bagi tubuh?
"Iya, jadi dari teori kedokteran darah kita itu bekerja dengan normal kalau pH-nya di titik 7,4-7,6, lebih spesifik lagi di titik 7,369. Baru darah kita itu bisa bekerja dengan normal, kekentalannya bagus. Jadi kalau dia kekentalannya normal berarti oksigen normal, soalnya kalau aliran darah lancar kan berarti aliran oksigen juga lancar," lanjutnya.
Menurut wanita lulusan Queensland Institute of Natural Science Australia ini, dalam kondisi sehat pembuluh darah dindingnya tipis dan bersih, aliran oksigen dan sari makanan juga lancar. Terlalu banyak konsumsi makanan yang tak diperlukan tubuh atau bakteri akan membuat darah kita jadi asam.
"Kemudian tubuh kita akan memproduksi suatu jenis protein, ini bisa bikin sempit pembuluh darah dan alirannya semakin kencang. Tapi itu proses yang panjang dan makan waktu bertahun-tahun. Mulai merasanya itu nanti misalnya sudah mulai pegal-pegal, itu berarti pembuluh darahnya mulai sempit," terang Andang.
(ajg/up)











































