Para peneliti percaya bahwa diet jenis ini meningkatkan risiko jangka panjang seseorang terkena penyakit, salah satunya risiko penyakit batu ginjal. Mengapa demikian?
Dilansir Daily Mail, Jumat (24/1/2014), hal ini dikarenakan asupan protein yang terlalu tinggi dapat mengurangi tingkat sitrat kemih dalam tubuh, yang pada akhirnya mencegah kristalisasi garam kalsium. Sementara kalsium adalah komponen kunci dari batu ginjal. Selain itu, tinggi protein juga dapat mengurangi pH urine dan meningkatkan kadar kalsium dalam urine. Nah, kombinasi dari kedua efek tersebut sangat mungkin untuk meningkatkan faktor pembentukan batu pada ginjal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Percobaan ini berlangsung selama 12 pekan, yang setara dengan sembilan tahun dalam istilah manusia. Selama percobaan, tikus yang menjalani diet protein tinggi kehilangan 10 persen dari berat badan mereka. Namun, tidak ada penurunan tingkat kolesterol atau jumlah lemak dalam darah mereka.
Tak hanya itu, tikus dengan diet tinggi protein ini juga memiliki tingkat 88 persen lebih rendah dari sitrat kemih dan urine mereka bersifat 15 persen lebih asam. Ini berarti mereka berada pada risiko yang lebih tinggi dari batu ginjal.
Menindaklanjuti hasil dari temuan ini, para peneliti menyarankan orang-orang yang mengikuti diet protein tinggi untuk terus memantau secara ketat kondisi kesehatan tubuh mereka.
"Beberapa masalah kesehatan yang berhubungan dengan diet ini bisa diimbangi dengan mengonsumsi banyak buah dan sayuran. Makan sejumlah besar buah dan sayuran mengurangi risiko batu ginjal karena mereka tinggi kalium dan magnesium, yang mampu menyeimbangkan keasaman diet tinggi protein," ujar Dr Virginia Aparicio, salah seorang peneliti yang terlibat.
(ajg/vit)











































