Seperti dilansir Daily Mail, Selasa (11/2/2014), ketika disuntikkan ke dalam otot-otot dinding perut, botox ternyata dapat memperlambat kecepatan jalannya makanan melewati perut. Teorinya, ini membuat pasien merasa lebih kenyang untuk waktu yang lebih lama, sehingga mereka pun lebih sedikit makan.
Dalam percobaan yang dilakukan di Trondheim University Hospital, Norwegia, setiap pasien yang disuntik botox mulutnya dimasukkan selang panjang yang ujungnya diberi kamera agar kondisi perut pasien dapat diamati. Kemudian botox disuntikkan ke dalam dinding perut melalui jarum yang dimasukkan lewat selang yang sama.
Dari situ peneliti mengetahui bila botox dapat memperlambat jalannya makanan di dalam perut hingga 50 persen lebih. Hal ini sesuai dengan hasil riset sebelumnya yang dilakukan Catholic University, Roma, di mana ketika botox yang disuntikkan ke dalam perut tikus, berat badan si tikus berkurang hingga 8,2 persen dan makanan yang dikonsumsinya hanya separuh dari makanan yang dimakan tikus yang disuntik plasebo saja.
Selain itu, dari riset lain diketahui bahwa botox yang disuntikkan ke dalam saraf vagus di perut tikus akan meneruskan pesan 'kenyang' ke otak sekaligus mengendalikan makanan ketika melewati usus. Botox berhasil 'melumpuhkan' saraf tersebut dan si tikus jadi makan lebih sedikit bahkan kehilangan 20-30 persen berat tubuhnya hanya dalam lima minggu.
Meski belum dapat dipastikan apakah penurunan berat badan dengan suntikan botox akan terasa signifikan, setidaknya peneliti percaya mereka telah menemukan kunci mengatasi problem kegemukan setelah menemukan bahwa 'mematikan' sel-sel saraf di dalam otak dapat mendorong si tikus agar makan dengan porsi lebih kecil.
Kuncinya ada di salah satu zat kimia yang terkandung dalam otak yaitu dopamine. Terbukti ketika peneliti mengaktifkan sel-sel reseptor dopamine di dalam prefrontal cortex (bagian otak yang bertugas membuat keputusan) dari si tikus, maka si tikus jadi makan lebih banyak, dan begitu juga sebaliknya.
Bahkan peneliti mengklaim cara ini lebih aman ketimbang operasi yang dikenal efektif untuk mengatasi obesitas parah, yaitu bedah lambung (gastric bypass). Karena operasi ini berisiko tinggi menimbulkan infeksi dan penggumpalan darah, bahkan ada yang terserang batu empedu hingga meninggal dunia karenanya.
Sedangkan botox memiliki lebih sedikit efek samping, di samping tergolong bedah invasif minimal dan lebih murah daripada operasi.
(lil/vit)











































