Dikutip dari Fit Sugar, Selasa (11/3/2014), saat baru melahirkan wanita dianjurkan untuk fokus pada perawatan bayi. Diet tidak dianjurkan dalam beberapa bulan pertama kehidupan bayi, oleh sebab itu Anda sebaiknya tidak membatasi kalori pada waktu tersebut. Anda membutuhkan asupan nutrisi ekstra untuk menghasilkan ASI yang cukup dan menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat.
Wanita juga dianjurkan untuk rutin berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi fisiknya pasca melahirkan. Jangan ragu untuk membicarakan kapan waktu yang paling tepat untuk memulai program diet dan penurunan berat badan. Biasanya dokter akan memberikan lampu hijau bagi wanita untuk berolahraga 6 pekan pasca melahirkan secara normal dan 8 pekan pasca operasi caesar, bergantung pada kondisi fisik masing-masing.
Selain itu, direkomendasikan bagi ibu menyusui untuk mengonsumsi sekitar 400-500 kalori ekstra untuk membantu memproduksi ASI yang cukup. Jumlah ini setara dengan tidak kurang dari 1600-1800 kalori per hari.
Jika Anda tetap ingin menjaga berat badan tetap stabil, sebaiknya hindari konsumsi beberapa makanan tertentu seperti kue dan es krim. Sebaliknya, pilih berbagai makanan bergizi seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, protein tanpa lemak, dan lemak sehat seperti alpukat. Sediakan botol air yang dapat diminum kapan saja. Air tidak hanya membantu mengurangi lapar berlebihan, tetapi juga membantu menjaga produksi ASI dan mempercepat metabolisme.
Yang pasti, butuh waktu 9 bulan bagi Anda menambah berat badan. Jadi, jangan terlalu menetapkan target untuk turun berat badan dalam waktu beberapa bulan saja. Fokuslah pada aktivitas menyusui selama 6 bulan pertama kehidupan bayi Anda. Menyusui membantu sebagian wanita secara alami menurunkan berat badan dengan cepat.
Setelah bayi Anda sudah bisa makan makanan padat teratur, yaitu di usia 8-12 bulan setelah melahirkan, Anda dapat lebih fokus secara bertahap mengurangi asupan kalori Anda untuk menurunkan berat badan. Berharap bisa menurunkan berat badan sekitar 5-6 kg per bulan setelah melahirkan dapat mempengaruhi kesehatan dan produksi ASI.
(ajg/up)











































