Hal-hal Konyol yang Bisa Terjadi Ketika Menjalani Program Diet

Hal-hal Konyol yang Bisa Terjadi Ketika Menjalani Program Diet

- detikHealth
Jumat, 04 Apr 2014 10:01 WIB
Hal-hal Konyol yang Bisa Terjadi Ketika Menjalani Program Diet
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Demi mendapatkan berat badan yang ideal, tak sedikit orang yang bertekad untuk mengobah pola hidupnya terutama dengan menerapkan diet, terlepas dari apa jenis diet yang dilakukannya. Hanya saja, pada beberapa orang, hal-hal yang tak diinginkan dan cenderung konyol justru bisa terjadi ketika mereka tengah menjalankan dietnya. Apa saja?

Dirangkum detikHealth, Jumat (4/4/2014) berikut ini hal-hal konyol yang bisa terjadi ketika seseorang sedang menjalankan dietnya:

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)

1. Pipi tembem

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Ketika diet berjalan, lemak di perut, lengan, dan betis bisa saja mulai berkurang. Namun, pada beberapa orang, bagian tubuh lain seperti pipi justru bisa menjadi tembem alias lebih gemuk. Menurut nutrisionis Leona Victoria Djajadi, penumpukan lemak merupakan faktor genetik yang tidak bisa dihindari.

Nah, untuk menghilangkan lemak di bagian yang sulit di-olahragakan cara yang bisa dilakukan adalah dengan menurunkan lemak total di tubuh. Namun, jika penumpukan lemak di bagian yang tidak bisa di-olahragakan ini terjadi umur yang terbilang belia, masih ada masa pertumbuhan. Lagipula diet ketat tanpa tujuan medis jelas menimbulkan risiko jangka panjang seperti anemia, osteoporosis, dan gangguan fertilitas.

1. Pipi tembem

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Ketika diet berjalan, lemak di perut, lengan, dan betis bisa saja mulai berkurang. Namun, pada beberapa orang, bagian tubuh lain seperti pipi justru bisa menjadi tembem alias lebih gemuk. Menurut nutrisionis Leona Victoria Djajadi, penumpukan lemak merupakan faktor genetik yang tidak bisa dihindari.

Nah, untuk menghilangkan lemak di bagian yang sulit di-olahragakan cara yang bisa dilakukan adalah dengan menurunkan lemak total di tubuh. Namun, jika penumpukan lemak di bagian yang tidak bisa di-olahragakan ini terjadi umur yang terbilang belia, masih ada masa pertumbuhan. Lagipula diet ketat tanpa tujuan medis jelas menimbulkan risiko jangka panjang seperti anemia, osteoporosis, dan gangguan fertilitas.

2. Kulit 'gombyor'

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Berat badan yang turun drastis dikatakan Leona memang bisa membuat kulit gombyor karena kulit tidak bisa mengikuti penurunan itu. Oleh karena itu ia menyarankan maksimum penurunan bobot yaitu dua kg per minggu.

"Untuk pengencangan Anda bisa berolahraga ke gym atau memakai korset karena idenya sama seperti orang sesudah bersalin. Korset bisa dipakai di rumah atau sambil berolahraga," tutur Victoria.

2. Kulit 'gombyor'

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Berat badan yang turun drastis dikatakan Leona memang bisa membuat kulit gombyor karena kulit tidak bisa mengikuti penurunan itu. Oleh karena itu ia menyarankan maksimum penurunan bobot yaitu dua kg per minggu.

"Untuk pengencangan Anda bisa berolahraga ke gym atau memakai korset karena idenya sama seperti orang sesudah bersalin. Korset bisa dipakai di rumah atau sambil berolahraga," tutur Victoria.

3. Diet tiba-tiba berhenti

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
"Saat berusaha menurunkan berat badan, banyak orang yang stuck atau dietnya terhenti tiba-tiba di masa stagnan atau plateu karena tubuh sudah menyesuaikan diri dengan kondisi pola makan dan rutin olahraga," kata Victoria.

Agar diet bisa tetap berjalan, Leona menyarankan  konsumsi protein dan karbohidrat tetap terpenuhi. Sebab, kurangnya konsumsi protein dan karbohidrat justru membuat tubuh berusaha mempertahankan sel otot agar tidak terbuang dan rusak sehingga metabolisme terganggu. Jangan lupa pula variasikan bentuk olahraga yang dilakukan.

3. Diet tiba-tiba berhenti

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
"Saat berusaha menurunkan berat badan, banyak orang yang stuck atau dietnya terhenti tiba-tiba di masa stagnan atau plateu karena tubuh sudah menyesuaikan diri dengan kondisi pola makan dan rutin olahraga," kata Victoria.

Agar diet bisa tetap berjalan, Leona menyarankan  konsumsi protein dan karbohidrat tetap terpenuhi. Sebab, kurangnya konsumsi protein dan karbohidrat justru membuat tubuh berusaha mempertahankan sel otot agar tidak terbuang dan rusak sehingga metabolisme terganggu. Jangan lupa pula variasikan bentuk olahraga yang dilakukan.

4. Hasilnya tetap nol

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jika ada orang yang sudah mencoba berbagai macam diet tapi hasilnya tetap nihil alias nol, menurut Victoria masalahnya bisa saja berada pada alasan utama orang yang bersangkutan untuk menurunkan berat badan.

"Jika alasannya karena takut terkena penyakit tingkat kepentingan dan komitmen untuk mengubah diet akan menjadi lebih tinggi urgencynya. Kalau sudah ada komitmen dan niat menurunkan berat badan, jangan jadikan beban. Jadikan perubahan makan sebagai bentuk perubahan gaya hidup dan bukan paksaan," terang Victoria.

4. Hasilnya tetap nol

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jika ada orang yang sudah mencoba berbagai macam diet tapi hasilnya tetap nihil alias nol, menurut Victoria masalahnya bisa saja berada pada alasan utama orang yang bersangkutan untuk menurunkan berat badan.

"Jika alasannya karena takut terkena penyakit tingkat kepentingan dan komitmen untuk mengubah diet akan menjadi lebih tinggi urgencynya. Kalau sudah ada komitmen dan niat menurunkan berat badan, jangan jadikan beban. Jadikan perubahan makan sebagai bentuk perubahan gaya hidup dan bukan paksaan," terang Victoria.

5. Berat badan justru naik

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Sudah makan dalam porsi sedikit, membatasi ngemil dan olahraga tapi berat badan justru naik? bisa jadi ada yang salah dengan jenis makanan yang Anda asup.

Diungkapkan Victoria, secara teoritis, mengurangi bobot berarti jumlah kalori yang masuk ke tubuh harus lebih sedikit dari yang dikeluarkan. Penurunan berat badan akan lebih cepat dan stabil jika dibarengi olahraga minimal 30 menit sebanyak empat sampai lima kali seminggu.

"Makan sedikit belum tentu kalori yang diasup sedikit, sebab makanan yang mengandung lemak dan minyak kalorinya dua kali lebih banyak ketimbang protein dan karbohidrat. Kurangi garam karena garam akan menyerap air sehingga air tidak bisa dipakai untuk keperluan lain yang menyebabkan naiknya tekanan darah dan menambah berat badan," jelas Victoria.

5. Berat badan justru naik

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Sudah makan dalam porsi sedikit, membatasi ngemil dan olahraga tapi berat badan justru naik? bisa jadi ada yang salah dengan jenis makanan yang Anda asup.

Diungkapkan Victoria, secara teoritis, mengurangi bobot berarti jumlah kalori yang masuk ke tubuh harus lebih sedikit dari yang dikeluarkan. Penurunan berat badan akan lebih cepat dan stabil jika dibarengi olahraga minimal 30 menit sebanyak empat sampai lima kali seminggu.

"Makan sedikit belum tentu kalori yang diasup sedikit, sebab makanan yang mengandung lemak dan minyak kalorinya dua kali lebih banyak ketimbang protein dan karbohidrat. Kurangi garam karena garam akan menyerap air sehingga air tidak bisa dipakai untuk keperluan lain yang menyebabkan naiknya tekanan darah dan menambah berat badan," jelas Victoria.
Halaman 2 dari 12
Ketika diet berjalan, lemak di perut, lengan, dan betis bisa saja mulai berkurang. Namun, pada beberapa orang, bagian tubuh lain seperti pipi justru bisa menjadi tembem alias lebih gemuk. Menurut nutrisionis Leona Victoria Djajadi, penumpukan lemak merupakan faktor genetik yang tidak bisa dihindari.

Nah, untuk menghilangkan lemak di bagian yang sulit di-olahragakan cara yang bisa dilakukan adalah dengan menurunkan lemak total di tubuh. Namun, jika penumpukan lemak di bagian yang tidak bisa di-olahragakan ini terjadi umur yang terbilang belia, masih ada masa pertumbuhan. Lagipula diet ketat tanpa tujuan medis jelas menimbulkan risiko jangka panjang seperti anemia, osteoporosis, dan gangguan fertilitas.

Ketika diet berjalan, lemak di perut, lengan, dan betis bisa saja mulai berkurang. Namun, pada beberapa orang, bagian tubuh lain seperti pipi justru bisa menjadi tembem alias lebih gemuk. Menurut nutrisionis Leona Victoria Djajadi, penumpukan lemak merupakan faktor genetik yang tidak bisa dihindari.

Nah, untuk menghilangkan lemak di bagian yang sulit di-olahragakan cara yang bisa dilakukan adalah dengan menurunkan lemak total di tubuh. Namun, jika penumpukan lemak di bagian yang tidak bisa di-olahragakan ini terjadi umur yang terbilang belia, masih ada masa pertumbuhan. Lagipula diet ketat tanpa tujuan medis jelas menimbulkan risiko jangka panjang seperti anemia, osteoporosis, dan gangguan fertilitas.

Berat badan yang turun drastis dikatakan Leona memang bisa membuat kulit gombyor karena kulit tidak bisa mengikuti penurunan itu. Oleh karena itu ia menyarankan maksimum penurunan bobot yaitu dua kg per minggu.

"Untuk pengencangan Anda bisa berolahraga ke gym atau memakai korset karena idenya sama seperti orang sesudah bersalin. Korset bisa dipakai di rumah atau sambil berolahraga," tutur Victoria.

Berat badan yang turun drastis dikatakan Leona memang bisa membuat kulit gombyor karena kulit tidak bisa mengikuti penurunan itu. Oleh karena itu ia menyarankan maksimum penurunan bobot yaitu dua kg per minggu.

"Untuk pengencangan Anda bisa berolahraga ke gym atau memakai korset karena idenya sama seperti orang sesudah bersalin. Korset bisa dipakai di rumah atau sambil berolahraga," tutur Victoria.

"Saat berusaha menurunkan berat badan, banyak orang yang stuck atau dietnya terhenti tiba-tiba di masa stagnan atau plateu karena tubuh sudah menyesuaikan diri dengan kondisi pola makan dan rutin olahraga," kata Victoria.

Agar diet bisa tetap berjalan, Leona menyarankan  konsumsi protein dan karbohidrat tetap terpenuhi. Sebab, kurangnya konsumsi protein dan karbohidrat justru membuat tubuh berusaha mempertahankan sel otot agar tidak terbuang dan rusak sehingga metabolisme terganggu. Jangan lupa pula variasikan bentuk olahraga yang dilakukan.

"Saat berusaha menurunkan berat badan, banyak orang yang stuck atau dietnya terhenti tiba-tiba di masa stagnan atau plateu karena tubuh sudah menyesuaikan diri dengan kondisi pola makan dan rutin olahraga," kata Victoria.

Agar diet bisa tetap berjalan, Leona menyarankan  konsumsi protein dan karbohidrat tetap terpenuhi. Sebab, kurangnya konsumsi protein dan karbohidrat justru membuat tubuh berusaha mempertahankan sel otot agar tidak terbuang dan rusak sehingga metabolisme terganggu. Jangan lupa pula variasikan bentuk olahraga yang dilakukan.

Jika ada orang yang sudah mencoba berbagai macam diet tapi hasilnya tetap nihil alias nol, menurut Victoria masalahnya bisa saja berada pada alasan utama orang yang bersangkutan untuk menurunkan berat badan.

"Jika alasannya karena takut terkena penyakit tingkat kepentingan dan komitmen untuk mengubah diet akan menjadi lebih tinggi urgencynya. Kalau sudah ada komitmen dan niat menurunkan berat badan, jangan jadikan beban. Jadikan perubahan makan sebagai bentuk perubahan gaya hidup dan bukan paksaan," terang Victoria.

Jika ada orang yang sudah mencoba berbagai macam diet tapi hasilnya tetap nihil alias nol, menurut Victoria masalahnya bisa saja berada pada alasan utama orang yang bersangkutan untuk menurunkan berat badan.

"Jika alasannya karena takut terkena penyakit tingkat kepentingan dan komitmen untuk mengubah diet akan menjadi lebih tinggi urgencynya. Kalau sudah ada komitmen dan niat menurunkan berat badan, jangan jadikan beban. Jadikan perubahan makan sebagai bentuk perubahan gaya hidup dan bukan paksaan," terang Victoria.

Sudah makan dalam porsi sedikit, membatasi ngemil dan olahraga tapi berat badan justru naik? bisa jadi ada yang salah dengan jenis makanan yang Anda asup.

Diungkapkan Victoria, secara teoritis, mengurangi bobot berarti jumlah kalori yang masuk ke tubuh harus lebih sedikit dari yang dikeluarkan. Penurunan berat badan akan lebih cepat dan stabil jika dibarengi olahraga minimal 30 menit sebanyak empat sampai lima kali seminggu.

"Makan sedikit belum tentu kalori yang diasup sedikit, sebab makanan yang mengandung lemak dan minyak kalorinya dua kali lebih banyak ketimbang protein dan karbohidrat. Kurangi garam karena garam akan menyerap air sehingga air tidak bisa dipakai untuk keperluan lain yang menyebabkan naiknya tekanan darah dan menambah berat badan," jelas Victoria.

Sudah makan dalam porsi sedikit, membatasi ngemil dan olahraga tapi berat badan justru naik? bisa jadi ada yang salah dengan jenis makanan yang Anda asup.

Diungkapkan Victoria, secara teoritis, mengurangi bobot berarti jumlah kalori yang masuk ke tubuh harus lebih sedikit dari yang dikeluarkan. Penurunan berat badan akan lebih cepat dan stabil jika dibarengi olahraga minimal 30 menit sebanyak empat sampai lima kali seminggu.

"Makan sedikit belum tentu kalori yang diasup sedikit, sebab makanan yang mengandung lemak dan minyak kalorinya dua kali lebih banyak ketimbang protein dan karbohidrat. Kurangi garam karena garam akan menyerap air sehingga air tidak bisa dipakai untuk keperluan lain yang menyebabkan naiknya tekanan darah dan menambah berat badan," jelas Victoria.

(rdn/vit)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads