Colao memang bertubuh gemuk sejak masih kanak-kanak. Tubuh yang gemuk itu membuat Colao kecil kerap di-bully di sekolah. Tak memiliki teman dan orang tuanya sibuk, satu-satunya teman bagi Colao hanyalah sang kakek.
Sayangnya saat Colao berusia 9 tahun, kekeknya meninggal. Kesepian yang teramat pun mendera Colao. Ia lantas melampiaskan rasa kesepiannya itu pada makanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak saat itu, bobot Colao terus merangkak naik. Ia terus meraup makanan tak sehat, siang maupun malam. Sekali makan, ia biasanya menyantap dua buah burger, segelas besar soda, kentang goreng dalam jumlah banyak, serta nugget ayam.
Kebiasaan buruk Calao tak hanya makan berlebih saja. Pada usia 18 tahun Colao mulai merokok dan pada usia 22 tahun ia mulai menjadi peminum kelas berat. Colao bisa menghabiskan sepuluh jenis minuman keras dalam semalam dan dua bungkus rokok setiap hari.
Saat itu, di usianya yang ke-28, bobot Colao mencapai 208 kilogram. Kegemukan itu tak ayal membatasi aktivitasnya. Bagaimana tidak, mengikat tali sepatu saja membuat ia kepayahan, apalagi berolahraga.
Serangan yang mirip serangan jantung pun terjadi pada dirinya. Pria itu tersentak dari tempat tidur pada pukul 3 dini hari. Seluruh tubuhnya diselimuti keringat, lengan kirinya mati rasa, dan jantungnya berdebar sangat kencang. Serangan itu telah terjadi selama tiga kali dalam dua minggu terakhir.
Ia menangis, belum berani menghadapi kematian. Itulah titik perubahan dalam hidup Colao. Ia sadar serangan itu terjadi karena ia tidak pernah menjaga tubuhnya dengan baik. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk berubah.
Colao pun mulai berolahraga. Ia mulai dari berjalan kaki, dan perlahan berkembang menjadi lari dan olahraga angkat beban. Ia juga berhenti merokok dan merombak dietnya. Ia berhenti menyantap makanan cepat saji, gorengan, daging merah, dan berhenti minum minuman bersoda. Ia memaksa dirinya agar terbiasa pada pilihan sehat.
"Saya berhenti merokok dan berhenti mengonsumsi segala sesuatu yang tak baik," ujarnya.
Upaya itu mendapat dukungan besar dari kedua orang tuanya. Mereka membelikan Colao sebuah treadmill agar ia bisa berolahraga di rumah. Beberapa bulan pertama, bobot Colao pun turun 23 kilogram. Kini targetnya tercapai, bobotnya telah turun 90 kilogram, dari 208 kilogram menjadi 118 kilogram.
Upayanya memang telah berhasil. Namun, Colao tidak berhenti sampai di situ. Ia ingin mengurangi lagi bobotnya sebanyak 9 hingga 13 kilogram. Colao juga ingin menjadi pelatih agar bisa memotivasi orang lain. Ia tergerak untuk membantu orang-orang yang mengalami kegemukan, seperti dirinya yang dulu.
"Keinginan utama saya adalah untuk membantu orang-orang yang seperti saya dulu, yang mengalami obesitas dan merasa putus asa," pungkasnya.
(mer/mer)











































