Ya, dengan melakukan diet penurunan berat badan, bukan berarti frekuensi makan harus dikurangi. Diketahui bahwa makanan paling lama bertahan di lambung selama 4 jam dan setelah kosong tubuh akan memberi sinyal lapar.
Nah, jika saat itu produksi enzim pencernaan tidak segera digunakan bukan tidak mungkin organ pencernaan akan mengalami radang. Beda halnya jika Anda sedang berpuasa, karena akan ada mekanisme adaptasi dari tubuh.
"Prinsip lain dari diet REST adalah frekuensi teratur. Enzim pencernaan kita ini akan diproduksi maksimal ketika dia sudah tahu ritme makan seseorang. Jadi kita dalam menjalani diet REST ini harus membuat tubuh paham dengan jam makannya kita, sehingga dia siap untuk itu," terang Rita Ramayulis, DCN, MKes, dosen jurusan Gizi di Politeknik Kesehatan Jakarta II, saat ditemui detikHealth dan ditulis pada Jumat (30/5/2014).
Menurut Rita, jika kita sudah memutuskan untuk makan pagi pukul 8 pagi, maka pada keesokan harinya dianjurkan makan pagi lagi pada sekitar pukul 8 juga. Dengan waktu makan yang teratur setiap harinya, maka proses pencernaan akan berlangsung secara maksimal.
"Jadi tidak dianjurkan sebenarnya kalau jam makannya berubah-ubah. Kalau hari ini kita selesai makan pukul 6 sore, besok itu pukul 6 sore harus selesai juga. Ritme yang teratur ini akan membuat proses pencernaan menjadi sangat maksimal," tegasnya.
(ajg/up)











































