Jakarta -
Berbicara soal makanan, tiap budaya tentu memiliki jenis makanan favorit yang berbeda. Banyaknya jenis makanan yang dikonsumsi masyarakat global tidak lepas jauh pula dengan mitos yang menyertainya.
Sejumlah informasi tentang manfaat makanan dan bahayanya belum tentu benar dan sering kali salah. Dirangkum dari ABC Australia, Selasa (15/7/2014), berikut adalah mitos tentang makanan yang kerap menyesatkan:
1. Roti Hangus Menyebabkan Kanker
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Belum ada penelitian yang mengatakan bahwa orang yang banyak mengonsumsi roti bakar akan meningkatkan risiko dirinya terserang kanker. Dr Paul Brent kepala peneliti dari Food Standards Australia and New Zealand (FSANZ) mengatakan bahkan tikus lab pun tidak pernah diberikan roti hangus untuk melihat pengaruhnya pada tumor.
Tapi memang dikatakan ada kandungan kimia pada roti hangus yang dapat dihubungkan pada kanker di manusia atau hewan. Jadi sebaiknya dihindari, lagipula roti yang telah gosong bukan makanan layak konsumsi seperti dikatakan Brent.
Saran dari Brent adalah jangan tergoda untuk mengonsumsi roti hangus jika merasa sayang dibuang. Lebih baik bakar roti lain yang masih baru.
2. Minum Susu Perparah Ingus
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Banyak yang mengatakan jika sedang flu atau hidung tersumbat sebaiknya hindari minum susu karena dapat memperparah sumbatan. Efek tersebut dikatakan oleh spesialis alergi Dr Ray Mullins tidak dapat dijelaskan.
"Mungkin orang-orang merasakan hal tersebut, tapi sebenarnya tidak ada penambahan produksi lendir," kata Mullins.
Mullins mengatakan sensasi tersebut mungkin datang pada orang yang meminum susu karena tekstur dan kekentalan susu. Ia mengatakan kebanyakan orang tidak merasakan hal yang sama saat mengonsumsi produk susu yang lain seperti keju.
Sensasi tersebut dikatakan oleh Mullins bukan merupakan alergi dan memperingatkan masyarakat untuk tidak menghilangkan susu dari daftar menu minuman sehari-hari karena dapat memiliki konsekuensi nutrisional yang serius.
3. Konsumsi Banyak Gula Buat Diabetes
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Para ahli mengatakan hal tersebut dapat terjadi tapi bukan karena faktor khusus pada gula. Konsumsi makanan apapun yang berlebih dapat menyebabkan kegemukan yang berisiko diabetes.
Memang benar bahwa diabetes adalah penyakit yang disebabkan oleh terlalu banyak kandungan glukosa (sejenis gula) pada darah. Akan tetapi Ian Caterson, profesor nutrisi manusia dari University of Sydney mengatakan banyak makan gula belum tentu penyebabnya.
"Bahkan pandangan yang mengatakan ada kaitan langsung antara konsumsi gula dan diabetes itu hanya mitos. Pokok utama penyebab diabetes itu kegemukan," kata Caterson.
4. Menelan Permen Karet Sumbat Pencernaan
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Permen karet dibuat bukan untuk ditelan. Jika tertelan bahan dasar permen karet yang terbuat dari polimer sintetis tersebut tidak dapat dicerna oleh tubuh dan tetap utuh.
Pada kebanyakan orang hal tersebut tidak menjadi masalah karena permen dapat melawati sistem pencernaan usus dan keluar dari tubuh.
Akan tetapi jika menelan permen karet menjadi kebiasaan, dalam waktu yang cukup lama kondisi langka dapat terjadi. Permen akan menumpuk menjadi gumpalan besar yang tidak dapat dicerna bernama bezoar.
"Awalnya permen akan mulai dari gumpalan kecil dan jika Anda terus menelan permen karet, gumpalan dapat semakin membesar layaknya bola salju," ujar Dr Nitin Gupta, ahli pencernaan anak dari Rumah Sakit Anak Sydney.
Tapi hal tersebut sangat jarang terjadi namun untuk berjaga-jaga sebaiknya jangan telan permen karet.
Belum ada penelitian yang mengatakan bahwa orang yang banyak mengonsumsi roti bakar akan meningkatkan risiko dirinya terserang kanker. Dr Paul Brent kepala peneliti dari Food Standards Australia and New Zealand (FSANZ) mengatakan bahkan tikus lab pun tidak pernah diberikan roti hangus untuk melihat pengaruhnya pada tumor.
Tapi memang dikatakan ada kandungan kimia pada roti hangus yang dapat dihubungkan pada kanker di manusia atau hewan. Jadi sebaiknya dihindari, lagipula roti yang telah gosong bukan makanan layak konsumsi seperti dikatakan Brent.
Saran dari Brent adalah jangan tergoda untuk mengonsumsi roti hangus jika merasa sayang dibuang. Lebih baik bakar roti lain yang masih baru.
Banyak yang mengatakan jika sedang flu atau hidung tersumbat sebaiknya hindari minum susu karena dapat memperparah sumbatan. Efek tersebut dikatakan oleh spesialis alergi Dr Ray Mullins tidak dapat dijelaskan.
"Mungkin orang-orang merasakan hal tersebut, tapi sebenarnya tidak ada penambahan produksi lendir," kata Mullins.
Mullins mengatakan sensasi tersebut mungkin datang pada orang yang meminum susu karena tekstur dan kekentalan susu. Ia mengatakan kebanyakan orang tidak merasakan hal yang sama saat mengonsumsi produk susu yang lain seperti keju.
Sensasi tersebut dikatakan oleh Mullins bukan merupakan alergi dan memperingatkan masyarakat untuk tidak menghilangkan susu dari daftar menu minuman sehari-hari karena dapat memiliki konsekuensi nutrisional yang serius.
Para ahli mengatakan hal tersebut dapat terjadi tapi bukan karena faktor khusus pada gula. Konsumsi makanan apapun yang berlebih dapat menyebabkan kegemukan yang berisiko diabetes.
Memang benar bahwa diabetes adalah penyakit yang disebabkan oleh terlalu banyak kandungan glukosa (sejenis gula) pada darah. Akan tetapi Ian Caterson, profesor nutrisi manusia dari University of Sydney mengatakan banyak makan gula belum tentu penyebabnya.
"Bahkan pandangan yang mengatakan ada kaitan langsung antara konsumsi gula dan diabetes itu hanya mitos. Pokok utama penyebab diabetes itu kegemukan," kata Caterson.
Permen karet dibuat bukan untuk ditelan. Jika tertelan bahan dasar permen karet yang terbuat dari polimer sintetis tersebut tidak dapat dicerna oleh tubuh dan tetap utuh.
Pada kebanyakan orang hal tersebut tidak menjadi masalah karena permen dapat melawati sistem pencernaan usus dan keluar dari tubuh.
Akan tetapi jika menelan permen karet menjadi kebiasaan, dalam waktu yang cukup lama kondisi langka dapat terjadi. Permen akan menumpuk menjadi gumpalan besar yang tidak dapat dicerna bernama bezoar.
"Awalnya permen akan mulai dari gumpalan kecil dan jika Anda terus menelan permen karet, gumpalan dapat semakin membesar layaknya bola salju," ujar Dr Nitin Gupta, ahli pencernaan anak dari Rumah Sakit Anak Sydney.
Tapi hal tersebut sangat jarang terjadi namun untuk berjaga-jaga sebaiknya jangan telan permen karet.
(up/up)