Kirimoto dan istrinya, Megumi, memiliki seorang anak bernama Sara (7). Seperti kebanyakan keluarga lainnya, mereka kerap berlari atau sekadar berjalan bersama keliling kompleks rumahnya yang terletak di Westminster, Colorado.
Aktivitas ini menyenangkan bagi Megumi dan Sara, tapi tidak bagi Kirimoto. Di usianya yang tak lagi muda, ia kerap tersengal-sengal saat berlari. Bagaimana tidak, dengan tinggi badan sekitar 178 cm, bobotnya mencapai 122 kg. Diakui oleh Megumi, seiring berjalannya waktu Kirimoto kerap menjadi tertutup dan pendiam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sempat mencoba berbagai diet ekstrem, termasuk hanya makan tahu sepanjang pekan, Kirimoto sempat merasa cara yang ia lakukan kurang tepat. Ia pun mencari informasi tentang pola makan sehat. Ia mengurangi asupan gula dan karbohidrat, juga mengubah menu sarapannya menjadi yoghurt, telur rebus atau apel. Salad juga akrab menjadi menu sehari-harinya.
Tak hanya itu, Kirimoto juga mulai rutin fitnes, latihan angkat beban dan berlari. Pola aktivitas ini membuat bobotnya turun 36 kg. "Padahal sebelumnya saya paling anti berlari, kecuali sedang dikejar beruang," candanya.
Untuk pola latihan fisik dan berlari, Kirimoto ditemani oleh pelatihnya, Snowden. Diakui oleh Snowden, latihan lari pertama Kirimoto tampak sangat kesulitan. Namun perlahan latihan Kirimoto mulai ditingkatkan.
Mulai rutin latihan lari, berat badan Kirimoto turun lagi. Jika jarak awal latihannya sejauh 5 km, kini Kirimoto sanggup berlari sejauh 9 km. Ia dan Sara juga seringkali mengikuti kompetisi berlari, mereka juga rutin berlati setiap hari Minggu.
Jika ditotal, kini berat badan Kirimoto sudah turun sebanyak 46 kg dan stabil di angka 76 kg. Perubahan drastisnya ini membuat Kirimoto banyak mendapat pujian dari keluarga dan teman-temannya. Ia kini tak lagi dikenal sebagai atlet sumo, melainkan atlet pelari.
(ajg/vta)











































