Peneliti Ini Klaim Masak Makanan di Rumah Belum Tentu Lebih Sehat

Peneliti Ini Klaim Masak Makanan di Rumah Belum Tentu Lebih Sehat

- detikHealth
Selasa, 16 Des 2014 20:00 WIB
Peneliti Ini Klaim Masak Makanan di Rumah Belum Tentu Lebih Sehat
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Berencana memasak dan makan malam di rumah? Boleh-boleh saja jika alasannya adalah untuk mengirit pengeluaran, tapi sebaiknya pikir ulang jika alasannya adalah ingin lebih sehat. Menurut penelitian, masak di rumah belum tentu lebih sehat.

Setidaknya inilah yang dikemukakan tim peneliti dari Rush University, Chicago, selepas melakukan analisis terhadap data yang dimiliki 2.755 wanita berumur 40-an, 50-an dan 60-an. Data tersebut mencakup waktu yang dihabiskan masing-masing partisipan untuk memasak dan hasil check-up tahunan mereka.

Ternyata mereka yang memasak paling lama berpeluang lebih besar untuk mengalami sindrom metabolik. Bagi yang belum tahu, sindrom metabolik merupakan kondisi di mana seseorang mempunyai tiga dari lima faktor risiko penyakit jantung maupun stroke. Dan pada partisipan, tiga faktor risiko yang ditemukan antara lain tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi serta obesitas. Demikian seperti dikutip dari jurnal Preventive Medicine, Selasa (16/12/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal yang sama juga berlaku pada wanita yang mulai banyak menghabiskan waktu untuk memasak, sebab risiko sindrom metaboliknya dilaporkan meningkat lebih cepat dari rata-rata. Sebaliknya, wanita yang mengurangi kebiasaannya memasak justru mengalami penurunan risiko sindrom metabolik.

"Sayangnya kami belum tahu pasti alasan di balik keterkaitan keduanya. Mungkin ini membuktikan bahwasanya kita tak hanya harus memasak sendiri, tapi memastikan bahwa proses memasak yang kita lakukan juga harus sehat," tegas peneliti Dr Brad Appelhans.

Ada tiga dugaan yang dilontarkan peneliti ketika menuding makanan yang dimasak sendiri di rumah belum tentu menyehatkan. Pertama, ketika memasak, si juru masak atau biasanya para ibu seringkali tak sungkan menambahkan bahan yang tak sehat seperti mentega dan garam ke dalam masakan, bahkan terkadang dalam jumlah yang berlebihan.

Kedua, ketika masakan sudah jadi, para ibu beserta anggota keluarganya didorong untuk menghabiskan lebih banyak makanan demi mengapresiasi si juru masak. Ketiga, mencicipi masakan yang hampir jadi juga tidak baik karena bila ini dilakukan terus-menerus, bukan tidak mungkin bobot si juru masak juga akan bertambah.

Uniknya, di sisi lain, peneliti juga mengatakan makanan cepat saji atau yang beli di luar rumah bisa jadi lebih menyehatkan. Sebab dengan banyaknya teguran tentang bahaya junk food, produsen mulai mempertimbangkan untuk membuat produk makanan yang lebih menyehatkan, misal dengan mengurangi penggunaan garam atau sering mengganti minyak yang dipakai untuk menggoreng.

(lil/up)

Berita Terkait