5 Manfaat Diet Mediterania: Tunda Pikun dan Bantu Pria Atasi Impotensi

5 Manfaat Diet Mediterania: Tunda Pikun dan Bantu Pria Atasi Impotensi

- detikHealth
Kamis, 19 Feb 2015 10:10 WIB
5 Manfaat Diet Mediterania: Tunda Pikun dan Bantu Pria Atasi Impotensi
Jakarta - Kebanyakan orang menerapkan diet tertentu dengan tujuan hanya untuk menurunkan atau menaikkan berat badan. Padahal ada beberapa manfaat sehat lainnya dengan menerapkan diet yang tepat. Salah satunya diet Mediterania.

Diet ini sendiri merupakan sebuah istilah yang diambil dari kebiasaan cara makan orang-orang dari negara-negara di sekitar laut Mediterania. Pola makan ini meliputi bahan seperti biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan, rempah-rempah, minyak zaitun, sayuran, kentang, pasta dan nasi.

Dalam diet Mediterania juga lebih banyak dikonsumsi buah-buahan segar, sayuran dan biji-bijian, termasuk kacang-kacangan seperti kedelai atau jenis kacang lainnya. Yang pasti, sumber lemak jenuh tunggal dalam pola makan ini adalah minyak zaitun. Minum air putih yang cukup juga penting dilakukan dalam diet ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, selain bikin tubuh langsing, berikut manfaat-manfaat lainnya dari diet Mediterania seperti dirangkum detikHealth dari berbagai sumber pada Kamis (19/2/2015):

1. Cegah osteoporosis

Seiring bertambahnya usia, seseorang akan kehilangan massa tulang. Diet yang buruk juga dapat menyebabkan pencucian kalsium dari tulang secara berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan osteoporosis dan peningkatan risiko patah tulang.

Berdasarkan sebuah penelitian, gaya diet Mediterania dengan minyak zaitun yang diterapkan selama 2 tahun, diketahui dapat meningkatkan konsentrasi serum osteocalin yang dapat melindungi tulang seseorang agar terhindar dari osteoporosis.

"Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa minyak zaitun dapat mempertahankan kekuatan tulang," kata Dr. Jose Manuel Fernandez-Real, pemimpin penelitian tersebut. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism (JCEM).

2. Menunda pikun

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti mengumpulkan data pola makan dari 17.478 orang keturunan Afro-Amerika dan Kaukasia dengan usia rata-rata 64 tahun. Partisipan juga diberi sejumlah tes untuk mengukur kemampuan berpikir dan daya ingat mereka selama periode studi yaitu empat tahun.

Hasilnya, tujuh persen partisipan dilaporkan mengalami gangguan kemampuan berpikir dan daya ingat selama berlangsungnya studi. Tapi partisipan sehat dan mempunyai pola makan yang mendekati diet Mediterania mengalami pengurangan risiko penurunan kemampuan kognitif sebesar 19 persen.

"Karena tak ada metode pengobatan definitif bagi kondisi serius ini, maka faktor yang dapat dimodifikasi dan menunda munculnya gejala-gejala demensia atau kepikunan seperti pola makan ini menjadi sangat penting," tandas ketua tim peneliti, Dr. Georgios Tsivgoulis dari University of Alabama, Birmingham, Inggris dan University of Athens, Yunani, seperti dikutip dari jurnal Neurology.

3. Pangkas risiko penyakit ginjal

Studi yang dipublikasikan dalam Clinical Journal of The American Society of Nephrology (CJASN) telah menemukan bahwa penerapan diet Mediterania dapat menurunkan risiko perkembangan penyakit ginjal kronis hingga 50 persen.

"Banyak penelitian telah menemukan hubungan yang menguntungkan antara diet Mediterania dan kesehatan. Sementara itu, semakin banyak juga bukti bahwa pola makan yang buruk berhubungan dengan penyakit ginjal," ungkap peneliti Columbia University Medical Center, Dr Minesh Khatri, seperti dikutip dari jurnal CJASN.

4. Turunkan risiko stroke

Tak cuma menurunkan risiko penyakit stroke, studi yang dilakukan peneliti dari Columbia University Medical Center, New York, mengungkapkan bahwa mereka yang menerapkan diet ala Mediterania ini juga lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami stroke iskemik yang disebabkan oleh penggumpalan darah.

Meskipun demikian, studi ini masih terbatas dan belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat, "Tapi secara keseluruhan, ada bukti yang kuat bahwa berdasarkan studi ini diet Mediterania secara signifikan mengurangi risiko stroke," ungkap Dr Paul Wright, ketua neurologi di North Shore University Hospital, New York.

5. Bantu atasi impotensi

Diutarakan ahli jantung di Yunani Athanasios Angelis, diet Mediterania termasuk konsumsi ikan, salad, dan minyak zaitun bisa memperbaiki kondisi impotensi pada pria. Sebab, penelitian Angelis menyebutkan konsumsi makanan sehat seperti itu bisa membersihkan pembuluh darah.

"Terutama pembuluh darah yang sempit seperti yang ada di penis di mana pembuluh tersebut berperan penting untuk performa pria ketika bercinta," tutur Angelis yang juga ahli disfungsi ereksi di Hippokration Hospital, Athena.

Dengan pola makan ala Mediterania diimbangi rutin olahraga serta manajemen stres yang baik, diharapkan pria tak perlu lagi bergantung pada viagra.

Nah, untuk diet mediterania Angelis merekomendasikan pria untuk lebih banyak mengonsumsi sereal, buah, dan sayuran. Konsumsi juga salad, kacang-kacangan, minyak zaitun, ikan dan unggas. Ditambahkan Angelis, daging merah cukup satu kali seminggu.
Halaman 2 dari 6
Seiring bertambahnya usia, seseorang akan kehilangan massa tulang. Diet yang buruk juga dapat menyebabkan pencucian kalsium dari tulang secara berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan osteoporosis dan peningkatan risiko patah tulang.

Berdasarkan sebuah penelitian, gaya diet Mediterania dengan minyak zaitun yang diterapkan selama 2 tahun, diketahui dapat meningkatkan konsentrasi serum osteocalin yang dapat melindungi tulang seseorang agar terhindar dari osteoporosis.

"Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa minyak zaitun dapat mempertahankan kekuatan tulang," kata Dr. Jose Manuel Fernandez-Real, pemimpin penelitian tersebut. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism (JCEM).

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti mengumpulkan data pola makan dari 17.478 orang keturunan Afro-Amerika dan Kaukasia dengan usia rata-rata 64 tahun. Partisipan juga diberi sejumlah tes untuk mengukur kemampuan berpikir dan daya ingat mereka selama periode studi yaitu empat tahun.

Hasilnya, tujuh persen partisipan dilaporkan mengalami gangguan kemampuan berpikir dan daya ingat selama berlangsungnya studi. Tapi partisipan sehat dan mempunyai pola makan yang mendekati diet Mediterania mengalami pengurangan risiko penurunan kemampuan kognitif sebesar 19 persen.

"Karena tak ada metode pengobatan definitif bagi kondisi serius ini, maka faktor yang dapat dimodifikasi dan menunda munculnya gejala-gejala demensia atau kepikunan seperti pola makan ini menjadi sangat penting," tandas ketua tim peneliti, Dr. Georgios Tsivgoulis dari University of Alabama, Birmingham, Inggris dan University of Athens, Yunani, seperti dikutip dari jurnal Neurology.

Studi yang dipublikasikan dalam Clinical Journal of The American Society of Nephrology (CJASN) telah menemukan bahwa penerapan diet Mediterania dapat menurunkan risiko perkembangan penyakit ginjal kronis hingga 50 persen.

"Banyak penelitian telah menemukan hubungan yang menguntungkan antara diet Mediterania dan kesehatan. Sementara itu, semakin banyak juga bukti bahwa pola makan yang buruk berhubungan dengan penyakit ginjal," ungkap peneliti Columbia University Medical Center, Dr Minesh Khatri, seperti dikutip dari jurnal CJASN.

Tak cuma menurunkan risiko penyakit stroke, studi yang dilakukan peneliti dari Columbia University Medical Center, New York, mengungkapkan bahwa mereka yang menerapkan diet ala Mediterania ini juga lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami stroke iskemik yang disebabkan oleh penggumpalan darah.

Meskipun demikian, studi ini masih terbatas dan belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat, "Tapi secara keseluruhan, ada bukti yang kuat bahwa berdasarkan studi ini diet Mediterania secara signifikan mengurangi risiko stroke," ungkap Dr Paul Wright, ketua neurologi di North Shore University Hospital, New York.

Diutarakan ahli jantung di Yunani Athanasios Angelis, diet Mediterania termasuk konsumsi ikan, salad, dan minyak zaitun bisa memperbaiki kondisi impotensi pada pria. Sebab, penelitian Angelis menyebutkan konsumsi makanan sehat seperti itu bisa membersihkan pembuluh darah.

"Terutama pembuluh darah yang sempit seperti yang ada di penis di mana pembuluh tersebut berperan penting untuk performa pria ketika bercinta," tutur Angelis yang juga ahli disfungsi ereksi di Hippokration Hospital, Athena.

Dengan pola makan ala Mediterania diimbangi rutin olahraga serta manajemen stres yang baik, diharapkan pria tak perlu lagi bergantung pada viagra.

Nah, untuk diet mediterania Angelis merekomendasikan pria untuk lebih banyak mengonsumsi sereal, buah, dan sayuran. Konsumsi juga salad, kacang-kacangan, minyak zaitun, ikan dan unggas. Ditambahkan Angelis, daging merah cukup satu kali seminggu.

(ajg/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads