Ya, sebuah studi yang dilakukan oleh Ohio State University menemukan bahwa permusuhan dan pertengkaran yang dilakukan terus-menerus seringkali diikuti dengan peningkatan nafsu makan dan lonjakan hormon yang bertugas dalam mengatur rasa lapar, yakni hormon ghrelin.
Namun ditegaskan bahwa efek ini umumnya hanya memengaruhi orang-orang yang awalnya memiliki berat badan sehat atau kegemukan, tidak sampai obesitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Studi: Tekanan Darah Tinggi Bisa Jadi Pertanda Pernikahan Tak Bahagia
Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat hormon stres yang berkaitan dan jumlah sel-sel kekebalan tertentu. Sebab selain itu, para peserta juga melaporkan adanya gejala kecemasan umum dan gangguan kualitas tidur.
Para peneliti menemukan adanya korelasi antara tekanan dalam sebuah hubungan asmara dengan pilihan makanan yang buruk. Mereka yang terus-menerus bertengkar juga lebih banyak mengonsumsi makanan tinggi lemak, gula dan garam.
Penulis utama studi ini, Lisa Jaremka, mengatakan benar adanya bahwa kedua hal ini berhubungan sangat erat. "Studi sebelumnya telah menemukan orang yang lapar lebih mungkin untuk kehilangan kesabaran dan nafsu makan pun melonjak. Ini karena otak kita tidak memiliki energi yang diperlukan untuk melakukan pengendalian diri," tutur Jaremka, seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (18/8/2015).
Diharapkan dapat dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan kemungkinan adanya hubungan antara masalah dalam hubungan antar pasangan dengan masalah kesehatan lainnya. (ajg/up)











































