Ilmuwan bahkan mengungkapkan bahwa paparan bahan kimia ini ke tubuh dapat menyebabkan berat badan meningkat. Bahan kimia plastik yang dimaksud yakni ftalat (phthalates).
Ftalat merupakan bahan kimia yang digunakan untuk membuat plastik menjadi lebih fleksibel dan lebih sulit untuk dihancurkan. Biasanya bahan ini digunakan dalam kemasan makanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Korelasi antara peningkatan konsentrasi ftalat dalam tubuh manusia dan risiko peningkatan berat badan telah terbukti dalam studi epidemiologi," ungkap peneliti dari Helmholtz, Dr Martin von Bergen, seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (20/1/2016).
Peningkatan berat badan sendiri pada akhirnya dapat juga meningkatkan risiko penyakit seperti masalah jantung, pembuluh darah, kerusakan sendi, peradangan kronis dan kanker.
Menurut von Bergen, kenaikan berat badan selama ini lebih sering dikaitkan dengan pola makan tak teratur, kurang olahraga dan faktor genetik. Namun kini polusi dan faktor lingkungan, termasuk ftalat juga patut diperhatikan. Bahan kimia ini paling sering 'berpindah' ke tubuh melalui kemasan makanan dari produk-produk yang mengandung lemak seperti keju atau sosis.
"Studi sebelumnya menemukan bahwa tikus yang terpapar ftalat dari air minum mereka mengalami kenaikan berat badan yang cukup signifikan, terutama pada tikus betina. Jelas bahwa ftalat mengganggu keseimbangan hormon. Kemungkinan ini karena di bawah pengaruh ftalat, proporsi asam lemak tak jenuh dalam darah naik, metabolisme glukosa terganggu, sehingga komposisi reseptor darah juga berubah," imbuh von Bergen.
Meski demikian, von Bergen menegaskan bahwa timnya akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan pengaruh ftalat pada tubuh lebih lanjut. Studi ini sendiri telah dipublikasikan dalam jurnal PLOS One.
Baca juga: Tanpa Disadari 5 Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Bikin Gemuk
(ajg/vit)











































