Jumat, 20 Mei 2016 09:30 WIB

Ogah Makan, Ini yang Terjadi Pada Indra Perasa Pasien Anoreksia

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Gangguan makan seperti anoreksia atau bahkan obesitas tak cuma memengaruhi berat badan, tapi juga kemampuan pasiennya dalam mengecap rasa. Inilah yang kemudian membuat si pasien menjadi sulit merasakan dan menikmati makanan.

Menurut studi terbaru yang dilakukan oleh University of Colorado Anschutz Medical Campus, diagnosis gangguan makan tersebut juga turut memengaruhi proses kerja otak yang berhubungan dengan pengenalan rasa.

Pada dasarnya, rasa makanan memiliki dampak yang sangat besar terhadap pola makan. Orang dengan anoreksia, umumnya memiliki kesulitan dalam mengenali rasa makanan. Mereka juga sulit menikmati makanan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan makanan. Inilah yang membuatnya semakin menghindari aktivitas makan.

Baca juga: Jarang Terdengar, Tapi 5 Gangguan Makan Ini Nyata

Kondisi tidak sehat tersebut disebabkan oleh perubahan hormon dan neuron dalam korteks insular atau insula. Ini adalah bagian dari otak yang berhubungan dengan emosi, persepsi, kontrol motor, dan kesadaran diri.

"Indra perasa merupakan pendorong penting yang berhubungan dengan nafsu makan dan pola makan seseorang. Jika Anda tidak bisa membedakan rasa, ini akan memengaruhi seberapa banyak Anda ingin makan," tutur dr Guido Frank, psikiater yang terlibat dalam studi ini, seperti dikutip dari Medical Daily, Jumat (20/5/2016).

Dalam studi tersebut, para peneliti melibatkan 106 responden wanita. Mereka diminta untuk merasakan air gula dan air putih. Selagi mereka meminum air-air tersebut, peneliti melakukan scan otak dan menganalisis aktivitas insula pada responden.

Mereka menyimpulkan bahwa pola makan tidak normal seperti anoreksia atau obesitas, memengaruhi kemampuan insula untuk mengidentifikasi rasa. Peserta dengan anoreksia atau obesitas mengalami kesulitan saat diminta untuk membedakan mana air gula dan air putih. Padahal hal ini dengan sangat mudah bisa dilakukan oleh responden yang tidak memiliki gangguan pola makan tersebut.

Meskipun demikian, para peneliti masih belum sepenuhnya memahami bagaimana perubahan insula bisa terjadi akibat adanya gangguan pola makan. "Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui mekanismenya," imbuh Frank. (ajg/vit)