Senin, 18 Jul 2016 07:02 WIB

Salah Kaprah Soal Diet, Waspada 'Sindrom Yoyo' Menyerang!

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Mendengar istilah 'diet', yang terlintas seringkali adalah cara menurunkan berat badan secara drastis dengan mengurangi jatah makan. Padahal faktanya tidak demikian.

Menurut pakar gizi Jansen Ongko, MSc, RD, arti diet yang sebenarnya bermakna pada pengaturan pola makan, tidak kurang dan tidak lebih.

"Diet bukanlah mengurangi porsi makan atau menghindari makanan tertentu dengan tujuan menurunkan berat badan seperti yang umum dipahami masyarakat. Bila kita berdiet dengan mengikuti pemahaman umum tersebut, akan tiba masa jenuh yang menyebabkan kita kembali memakan apa saja dan tak terkendali," tutur Jansen, seperti dikutip dari bukunya yang berjudul 'Fit Teen's Diary'.

Baca juga: Jangan Cuma Andalkan Sayur Hijau, Makan 'Pelangi' Jauh Lebih Menyehatkan

Kondisi ini disebut juga sebagai 'sindrom yoyo'. Sindrom ini dikatakan oleh Jansen sering dialami oleh mereka yang gemar menjalani diet ekstrem, alias memangkas porsi makan secara drastis demi mendapatkan tubuh langsing secara cepat.

"Bila Anda pernah melakukan diet ekstrem secara berulang, makan berhati-hatilah karena bisa jadi tanpa disadari sudah terjebak dalam sindrom ini. Semakin lama mengalami sindrom yoyo, maka semakin sulit Anda menurunkan berat badan," imbuh nutrisionis lulusan California State University, Los Angeles ini.

Ia melanjutkan, hal tersebut terjadi karena adanya gangguan pada hormon dan tubuh setelah kehilangan banyak otot. Apapun jenis kelamin dan berapapun usia seseorang, otot sangat dibutuhkan oleh tubuh karena berhubungan erat dengan tingkat metabolisme.

Baca juga: Agar Kulit Buah Aman Dikonsumsi, Jangan Lupa Digosok Saat Mencucinya

(ajg/up)