Seperti diketahui orang dengan kondisi diabetes tipe 1 harus rutin suntik insulin agar bisa menyerap energi dari makanan karena tubuhnya tak optimal mengatur produksi hormon tersebut. Namun pengidap diabulimia sengaja menghindari suntik insulin agar ia bisa makan sebanyak-banyaknya dan bisa tetap kurus.
Baca juga: Jarang Terdengar, Tapi 5 Gangguan Makan Ini Nyata
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya karena kondisi diabulimia belum diakui masih sedikit tempat untuk pengidap bisa mendapatkan bantuan. Selama ini ada banyak tempat di mana orang bisa konsultasi untuk diabetes atau gangguan makan, tapi tak pernah ada untuk keduanya sekaligus.
Professor Khalida Ismail dari King's College London, Inggris, mengatakan sudah saatnya ahli diabetes dan psikiater bersatu untuk mengatasi masalah ini.
"Mereka (ahli diabetes dan psikiater -red) tak pernah bersama bertemu dengan pasien dan ini adalah penggunaan sumber daya yang tidak efesien. Saya beragumentasi kalau kita bisa menghemat lebih baik bila pelayanan digabung," kata Prof Ismail seperti dikutip dari BBC Kamis (8/9/2016).
Di lain sisi lembaga Diabetics With Eating Disorders (DWED) terus berkampanye agar diabulimia dianggap sebagai penyakit mental resmi.
"Ada kesadaran bahwa ini mungkin lebih besar dari yang kita pikirkan. Tidak ada yang tahu seberapa besar pengidap diabulimia sebenarnya atau bagaimana mendeteksinya," tutup Prof Ismail.
Baca juga: Terobsesi Jadi Kurus Saat Kena Diabetes, Malah Harus Kehilangan Bayi (fds/vit)











































