Hadapi Diabulimia, Psikiater dan Ahli Diabetes Harus Duduk Bersama

Hadapi Diabulimia, Psikiater dan Ahli Diabetes Harus Duduk Bersama

Firdaus Anwar - detikHealth
Kamis, 08 Sep 2016 18:09 WIB
Hadapi Diabulimia, Psikiater dan Ahli Diabetes Harus Duduk Bersama
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Diabulimia meksi belum resmi sebagai kondisi medis namun istilah ini sering dipakai untuk merujuk pada gangguan makan yang terjadi pada pengidap diabetes tipe 1. Kondisi paling sering terjadi pada wanita muda yang sengaja tidak melakukan suntik insulin dengan tujuan menurunkan berat badan.

Seperti diketahui orang dengan kondisi diabetes tipe 1 harus rutin suntik insulin agar bisa menyerap energi dari makanan karena tubuhnya tak optimal mengatur produksi hormon tersebut. Namun pengidap diabulimia sengaja menghindari suntik insulin agar ia bisa makan sebanyak-banyaknya dan bisa tetap kurus.

Baca juga: Jarang Terdengar, Tapi 5 Gangguan Makan Ini Nyata

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilakukan dalam waktu panjang maka orang dengan diabulimia ini berisiko alami ketoasidosis diabetes. Akibat yang dapat timbul seperti gangguan pencernaan, kebutaan, kerusakan ginjal, bahkan kematian.

Sayangnya karena kondisi diabulimia belum diakui masih sedikit tempat untuk pengidap bisa mendapatkan bantuan. Selama ini ada banyak tempat di mana orang bisa konsultasi untuk diabetes atau gangguan makan, tapi tak pernah ada untuk keduanya sekaligus.

Professor Khalida Ismail dari King's College London, Inggris, mengatakan sudah saatnya ahli diabetes dan psikiater bersatu untuk mengatasi masalah ini.

"Mereka (ahli diabetes dan psikiater -red) tak pernah bersama bertemu dengan pasien dan ini adalah penggunaan sumber daya yang tidak efesien. Saya beragumentasi kalau kita bisa menghemat lebih baik bila pelayanan digabung," kata Prof Ismail seperti dikutip dari BBC Kamis (8/9/2016).

Di lain sisi lembaga Diabetics With Eating Disorders (DWED) terus berkampanye agar diabulimia dianggap sebagai penyakit mental resmi.

"Ada kesadaran bahwa ini mungkin lebih besar dari yang kita pikirkan. Tidak ada yang tahu seberapa besar pengidap diabulimia sebenarnya atau bagaimana mendeteksinya," tutup Prof Ismail.

Baca juga: Terobsesi Jadi Kurus Saat Kena Diabetes, Malah Harus Kehilangan Bayi (fds/vit)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads