Tim peneliti melakukan pengamatan pada 20 orang dengan obesitas. Seluruh responden diminta menjalani pola makan ultra rendah kalori selama dua bulan, dan berhasil mengalami penurunan bobot rata-rata 6 kg.
Setelah itu, setiap responden menjalani program pemeliharaan berat badan yang lebih 'ringan' selama setahun. Dan hasilnya, bobot mereka menjadi stabil seterusnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rupanya saat diet dimulai, tubuh beradaptasi dengan menaikkan nafsu makan Anda. Mungkin itu caranya untuk 'survive' atau melawan keinginan Anda," terang peneliti, Signe Sorensen Torekov, PhD seperti dilaporkan Men's Health.
Namun setahun berikutnya, ghrelin responden menurun hingga 7 persen. Torekov menduga saat itu proses adaptasi tubuh mulai melambat. "Karena tubuh mulai terbiasa dengan bobot barunya, sehingga produksi hormon pemicu laparnya juga tidak sebanyak biasanya," imbuhnya.
Baca juga: Ini Alasannya Mengapa Bobot Gampang Naik Kembali Setelah Turun Drastis
Menariknya, bersamaan dengan menurunnya produksi hormon ghrelin, peneliti juga menemukan terjadinya peningkatan dua hormon yang membantu memunculkan rasa kenyang, yaitu GLP-1 dan PYY3-36. Kenaikannya juga berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu setahun.
Menurut Torekov, lemak tambahan yang ada di tubuh juga ikut berperan dalam menghalangi kinerja sel untuk memproduksi hormon-hormon pembuat kenyang ini. Oleh karena itu, ketika seseorang berhasil menghilangkan lemak di tubuhnya dan mempertahankannya dalam kurun waktu tertentu, produksi hormon-hormonnya akan kembali normal.
"Kuncinya, bila Anda bisa mempertahankan bobot dalam waktu setahun, Anda akan mulai jarang merasa lapar, sehingga menjaga agar bobot tetap stabil menjadi pekerjaan yang lebih mudah," imbuhnya.
Baca juga: Rajin Fitnes di Gym Tapi Diet Tak Dikontrol, Efeknya Nol (lll/vit)










































