Dijelaskan Karen Ansel, RDN, penulis 'Healthy in a Hurry: Simple, Wholesome Recipes for Every Meal of the Day', intoleransi laktosa kerap dianggap alergi susu. Padahal, kondisi ini terjadi akibat kurangnya enzim laktase yang berfungsi memecah gula dalam susu.
"Akibatnya, gula dalam susu yakni laktosa menuju ke seluruh sistem pencernaan, menarik air ke dalam usus hingga menyebabkan timbul gas di lambung, kembung, dan timbul rasa tidak nyaman di perut," kata Ansel kepada Self.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab tubuh akan memproduksi enzim pencernaan untuk memecah makanan yang biasa dicerna secara teratur. Rumsey menambahkan, ketika Anda berhenti mengekspos usus dengan laktosa, tubuh akan memproduksi lebih sedikit enzim laktase. Akibatnya, saat Anda minum susu atau mengonsumsi produk susu, akan timbul perasaan tidak nyaman.
Baca juga: Ingat Ya! Susu Adalah Pelengkap Menu, Bukan Pengganti Makanan
"Cara terbaik menentukan apakah produk susu yang membuat pencernaan tak nyaman akibat adanya intoleransi laktosa, coba berhenti konsumsi produk susu selama satu sampai dua minggu. Jika perut tidak kembung, setelahnya Anda bisa menambah sedikit produk susu dalam diet secara perlahan," kata Rumsey.
Sebab, beberapa orang dengan intoleransi laktosa bisa tetap mengonsumsi produk susu dalam jumlah sedikit dan jarang. Atau, susu bisa dikonsumsi asal dikombinasi dengan makanan lain, seperti sereal. Rumsey berpesan ketika Anda mengurangi produk susu yang kaya akan nutrisi seperti kalsium, jangan lupa konsumsi asupan lain yang juga kaya kalsium misalnya brokoli, kale, almond, dan udang.
Pada anak, intoleransi laktosa kerap dianggap sama dengan alergi susu sapi. Nah, menurut Prof Dr Muhammad Juffrie, PhD, SpA(K) alergi susu sapi merupakan alergi yang terjadi pada bayi atau anak terhadap 'protein susu sapi'. Sedangkan intoleransi laktosa terjadi karena bayi tak dapat mencerna karbohidrat berupa laktosa karena kekurangan enzim laktase.
"Gejalanya (alergi susu sapi) itu biasanya anaknya kolik (menangis terus-menerus tanpa henti), sakit perut diare, kadang dengan berdarah. (Bedanya) kalau intoleransi kembung kemudian anaknya juga sakit perut tapi buang air besarnya asam," terang Prof Juffrie.
Baca juga: Jangan Asal Minum, Ini Kriteria Susu yang Benar-benar Sehat
(rdn/vit)











































