Ya, orang yang memilih untuk menurunkan berat badan dengan metode ini cenderung hanya akan mengonsumsi jus buah atau sayuran sepanjang hari, tanpa mengonsumsi makanan berat atau bahan tambahan lainnya.
Menurut nutrisionis Rhiannon Lambert, ini adalah salah satu pola diet yang keliru. Ia mengungkapkan, teori bahwa tubuh manusia melakukan detoksifikasi melalui konsumsi jus dianggap kurang tepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tubuh secara alami dirancang untuk mampu menghilangkan racun sendiri dengan menggunakan hati dan ginjal. Konsumsi jus terus-terusan tidak akan mampu menandingi detoks alami tubuh," ungkap Lambert.
Ia juga menambahkan, konsumsi jus juga seringkali dianggap lebih baik dibandingkan makan langsung sayur dan buah karena 'menyingkirkan' serat dianggap membuat nutrisi sehatnya menjadi lebih mudah diserap. Menanggapi hal tersebut, Lambert juga menuturkan bahwa sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah yang mendukung teori ini.
"Mengonsumsi asupan di bawah 1.000 kalori per hari, termasuk dari jus, dapat menimbulkan defisit kalori ekstrem. Kondisi ini pun bisa berujung pada metabolisme tubuh yang menjadi lambat," imbuhnya.
Lambert menegaskan, jus buah atau sayur tidak boleh digunakan sebagai pengganti makan. Meski menyehatkan, namun jus tidak mengandung cukup protein dan lemak sehat, yang sangat dibutuhkan tubuh. Konsumsi jus berlebihan dalam jangka panjang tanpa memenuhi unsur nutrisi lainnya juga bisa meningkatkan risiko sindrom metabolik, kerusakan hati dan bahkan obesitas.
Baca juga: Ini Sebabnya Jus Buah Dianjurkan Segera Diminum Setelah Selesai Dibuat
(ajg/vit)










































