Diet 'Yo-yo' Memang Tak Sehat, Tapi Tetap Stabil di Gemuk Lebih Bahaya

Diet 'Yo-yo' Memang Tak Sehat, Tapi Tetap Stabil di Gemuk Lebih Bahaya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 27 Feb 2017 17:40 WIB
Diet Yo-yo Memang Tak Sehat, Tapi Tetap Stabil di Gemuk Lebih Bahaya
Foto: thinkstock
Jakarta - Berbagai penelitian membuktikan bahwa diet yo-yo tidak baik untuk kesehatan. Fakta ini kerap menjadi pembenaran bagi sebagian pemilik tubuh gemuk yang memilih tidak melakukan apapun untuk memperbaiki gaya hidupnya.

Diet yo-yo merupakan istilah untuk menggambarkan naik turunnya berat badan secara berulang dan tidak pernah stabil. Pada satu periode berat badan turun drastis, lalu naik lagi di periode berikutnya. Demikian, siklus tersebut selalu berulang.

Walau diet naik-turun semacam ini tidak baik untuk kesehatan, seorang pakar biostatistik dari University of Alabama menyebutnya masih lebih sehat dibandingkan membiarkan berat badan tetap stabil di level gemuk. Penelitian pada tikus membuktikan diet yo-yo lebih memberikan peluang untuk berumur panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mungkin bukan ide yang buruk untuk menurunkan berat badan meski akan gemuk lagi dan berulang tiap beberapa tahun," kata Dr David Allison dalam sebuah pertemuan ilmiah di Boston, dikutip dari Dailymail.

Baca juga: Wanita Gemuk Lebih Berisiko Terkena Kanker Dinding Rahim

Diperkirakan 2 dari 3 orang di Inggris mengalami kelebihan berat badan dan obesitas. Tanpa ada upaya untuk mengatasinya, kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko penyakit mematikan seperti diabetes melitus tipe 2 dan penyakit jantung.

Celakanya, penelitian juga membuktikan bahwa gemuk bisa 'menular' di sebuah lingkungan pergaulan. Menghabiskan waktu bersama rekan-rekan yang gemuk, dan memiliki pola hidup yang tidak sehat tentunya, akan menularkan berbagai faktor risiko kegemukan.

Baca juga: Bahaya! Jangan Pernah Lakukan Diet Yo-yo (up/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads