Tim peneliti dari Kyushu University, Jepang mencoba mengamati dampak makan dengan cepat terhadap berat badan seseorang. Mereka mewawancarai 59.717 pria dan wanita Jepang yang mengidap diabetes tipe 2.
Masing-masing dari mereka diminta menilai apakah mereka makan dengan cepat, normal atau perlahan-lahan. Mereka juga menjalani check up secara teratur dalam kurun tahun 2008-2013.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, lingkar pinggang mereka yang makan lebih lambat juga jauh lebih kecil ketimbang yang makan cepat-cepat.
Baca juga: Ini Untungnya Mengunyah Makanan Pelan-pelan
Menurut peneliti, ini karena mereka yang terbiasa makan dengan cepat akan terus makan meski sebenarnya sudah merasa kenyang atau tubuh sudah mendapatkan kalori dalam jumlah yang memadai.
"Sinyal kenyang dari perut butuh waktu untuk bisa sampai ke otak, dan bisa jadi ketika sinyalnya baru sampai ke otak, mereka sudah lebih dulu selesai makan," tandas peneliti seperti dilaporkan The Japan Times.
Belum lagi, lanjut peneliti, ada kebiasaan makan buruk lainnya yang dimiliki orang-orang yang terbiasa makan cepat. Di antaranya makan malam dua jam sebelum tidur dan masih ngemil setelah makan malam. Padahal kebiasaan-kebiasaan itulah yang memperbesar peluang seseorang untuk mengalami obesitas jika dibiarkan berlarut-larut.
Selain makan cepat, studi lain yang dilakukan di Inggris menyebut makan sambil berjalan juga bisa memicu obesitas karena mereka cenderung terdistraksi atau teralihkan perhatiannya dari makanan.
Distraksi ini mampu melumpuhkan kemampuan tubuh untuk mengenali rasa kenyang saat selesai makan. Artinya, Anda akan lebih sulit merasa kenyang.
Baca juga: Kunyah Makanan Pelan-pelan Agar Terhindar dari Diabetes (lll/up)










































