Jumlah Kalori Sama, Efek ke Timbangan Bisa Berbeda karena 3 Faktor Ini

Jumlah Kalori Sama, Efek ke Timbangan Bisa Berbeda karena 3 Faktor Ini

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Minggu, 20 Mei 2018 14:00 WIB
Jumlah Kalori Sama, Efek ke Timbangan Bisa Berbeda karena 3 Faktor Ini
Foto: detikHealth
Jakarta - Menghitung jumlah kalori dalam makanan yang disantap bisa membantu keberhasilan program diet. Tapi penting diingat, ada banyak faktor lain yang berpengaruh.

Jumlah kalori yang sama, sangat mungkin memberikan efek berbeda pada berat badan ketika berasal dari jenis makanan yang berbeda. Kalori yang berasal dari protein misalnya, efeknya tentu berbeda dengan kalori yang berasal dari karbohidrat apalagi lemak.

Sama-sama karbohidrat pun, nasi putih juga bisa memberikan efek yang berbeda dengan nasi merah meski dikonsumsi dalam jumlah kalori yang sama dalam sekali santap. Nasi merah mengandung jenis karbohidrat yang lebih kompleks dibanding nasi putih. Efek kenyang lebih lama, sehingga terhindar dari perilaku makan berlebih pada sesi makan berikutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Sebuah penelitian terbaru di jurnal Obesity Reviews mengungkap beberapa hal menjelaskan kenapa jumlah kalori yang sama bisa memberikan efek berbeda pada timbangan. Berikut ini sebagian di antaranya.

Kandungan nutrisi

Foto: detikHealth
Dalam 150 kalori kentang, terkandung tidak hanya pati karbohidrat. Di sana juga ada serat, vitamin B dan kalium yang memberikan ekstra nutrisi dibanding segelas minuman ringan bersoda dengan jumlah kalori yang sama.

Minuman ringan yang hanya mengandung air dan gula, lebih banyak meningkatkan risiko kegemukan dan berbagai komplikasinya. Mulai dari gigi keropos, hingga kencing manis alias diabetes.

Jenis lemak

Foto: detikHealth
Kalori juga bisa berasal dari lemak, dan ada banyak jenis lemak yang memberikan efek berbeda di dalam tubuh. Polyunsaturated fat atau lemak jenuh berganda adalah jenis lemak baik yang menurunkan berbagai risiko penyakit kronis. American Heart Association menyebut jenis lemak ini bisa membantu menurunkan kadar kolesterol jahat.

Jenis lemak yang banyak ditemukan pada biji-bijian ini dianggap lebih sehat dibanding lemak jahat yang sering ditemukan dalam daging merah. Jenis lemak jahat lebih banyak dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke dan masalah jantung.

Jenis gula

Foto: detikHealth
Buah segar dan jus buah memberikan efek yang berbeda pada berat badan, terutama karena adanya gula pasir yang ditambahkan pada jus buah. Walaupun total kalorinya mungkin sama, jenis gula sederhana yang ditambahkan membuat jus buah lebih cepat memicu lonjakan gula darah.

Di dalam buah segar juga terkandung gula alami. Tentu saja jenisnya lebih beragam, dan relatif lebih aman bagi tubuh. Selain itu, buah segar lebih banyak mengandung serat yang memberikan manfaat ekstra bagi sistem pencernaan.

Halaman 2 dari 4
Dalam 150 kalori kentang, terkandung tidak hanya pati karbohidrat. Di sana juga ada serat, vitamin B dan kalium yang memberikan ekstra nutrisi dibanding segelas minuman ringan bersoda dengan jumlah kalori yang sama.

Minuman ringan yang hanya mengandung air dan gula, lebih banyak meningkatkan risiko kegemukan dan berbagai komplikasinya. Mulai dari gigi keropos, hingga kencing manis alias diabetes.

Kalori juga bisa berasal dari lemak, dan ada banyak jenis lemak yang memberikan efek berbeda di dalam tubuh. Polyunsaturated fat atau lemak jenuh berganda adalah jenis lemak baik yang menurunkan berbagai risiko penyakit kronis. American Heart Association menyebut jenis lemak ini bisa membantu menurunkan kadar kolesterol jahat.

Jenis lemak yang banyak ditemukan pada biji-bijian ini dianggap lebih sehat dibanding lemak jahat yang sering ditemukan dalam daging merah. Jenis lemak jahat lebih banyak dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke dan masalah jantung.

Buah segar dan jus buah memberikan efek yang berbeda pada berat badan, terutama karena adanya gula pasir yang ditambahkan pada jus buah. Walaupun total kalorinya mungkin sama, jenis gula sederhana yang ditambahkan membuat jus buah lebih cepat memicu lonjakan gula darah.

Di dalam buah segar juga terkandung gula alami. Tentu saja jenisnya lebih beragam, dan relatif lebih aman bagi tubuh. Selain itu, buah segar lebih banyak mengandung serat yang memberikan manfaat ekstra bagi sistem pencernaan.

(up/up)

Berita Terkait