Rabu, 01 Agu 2018 12:00 WIB

Diklaim Bisa Langsingkan Badan, Efektifkah Cuci dan Detoks Usus?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Pembersihan usus atau cuci usus normal dilakukan sebagai persiapan untuk prosedur medis seperti kolonoskopi (prosedur memeriksa dalam usus menggunakan kamera). Namun efektifkah jika cuci usus dilakukan di luar prosedur tersebut?

Dewasa ini banyak sekali iklan yang menawarkan detoks usus agar lebih sehat dan jadi langsing. Menurut Michael F Picco, MD, spesialis pencernaan di Mayo Clinic, hal tersebut sebenarnya tidak perlu, karena sistem pencernaan kita sudah memiliki cara alami untuk membuang kotoran dan bakteri dari dalam tubuh.

"Saat mencuci usus, sejumlah besar air - kadang bisa sampai 60 liter - dan kemungkinan ada substansi lain seperti rempah-rempah atau kopi, disiramkan ke dalam usus. Dilakukan dengan selang yang dimasukkan lewat anus," tuturnya, dikutip dari Mayo Clinic.


Para pelaku cuci usus mempercayai bahwa racun dan lemak dalam saluran cerna dapat menyebabkan masalah kesehatan misal hipertensi hingga kegemukan. Sehingga, dengan detoks usus diharapkan dapat meningkatkan kesehatan.

Namun, lanjut Picco, belum ada bukti ilmiah bahwa mencuci usus memberikan efek atau manfaat tersebut. Bahkan malah bisa berbahaya, dengan berbagai efek samping yang bisa timbul seperti keram, kembung, diare, mual dan muntah.

Tak hanya itu, cuci usus juga dikhawatirkan berpotensi menyebabkan dehidrasi, perforasi (usus robek), infeksi dan merubah keseimbangan elektrolit (yang bisa mengganggu kesehatanmu). Picco menyarankan jika tetap ingin melakukan cuci usus, cek terlebih dahulu ke dokter dan pastikan praktisi yang akan melakukannya terpercaya serta peralatannya higienis dan baru.

"Atau catat jumlah dan bahan dari produk cuci usus herbal yang ingin kamu pakai, karena beberapa bahan bisa mengganggu kesehatan tubuh kita," tandas Picco.

(frp/fds)