Rabu, 19 Des 2018 06:37 WIB

Emotional Eating, Saat Stres Pengaruhi Pola Makan

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kondisi kejiwaan bisa mempengaruhi pola makan (Foto: Getty Images)
Jakarta - Saat sedang stres, seringkali hal pertama yang tercetus di benak individu adalah makan. Pikirnya, dengan makan, pikiran yang stres akan hilang dan perasaan akan membaik.

Sebuah penelitian menemukan 30 persen wanita dan 24 persen pria mengatasi stres dengan mengonsumsi makanan yang berlebihan.

"Secara psikologis, ketika merasa buruk tubuh akan bereaksi mencari sesuatu yang lebih baik sebagai defens mechanism. Dalam kondisi ini, seseorang biasanya menginginkan makanan berkalori tinggi dengan gizi minim, seperti es krim, kue, coklat, kentang goreng atau pizza," kata psikolog klinis dari Lighthouse, Tara de Thouars, BA, MPsi, saat ditemui pada acara Emotional Eating oleh Unilever, Selasa (18/12/2018).



Tara menambahkan, saat stres pengambilan keputusan seringkali tidak tepat, termasuk pilihan saat makan. Itu sebabnya banyak orang yang kemudian menyesal setelah makan banyak.

Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat memicu emotional eating yang dapat meningkatnya asupan Gula Garam Lemak (GGL) sehingga tubuh rentan akan penyakit seperti obesitas, diabetes, darah tinggi dan penyakit jantung.

"Ketika kondisi ini terus berulang, maka tubuh akan menyimpan kalori dalam jumlah besar. Emotional eating yang tidak ditangani akan menyebabkan gangguan fisik seperti kegemukan atau obesitas," tambahnya.

Emotional eating juga biasanya dipengaruhi karena pola asuh sejak kecil. Misalnya ketika sedang belajar, disuguhi camilan atau saat menangis diberikan permen atau makanan manis lainnya agar menjadi lebih tenang.



"Sejak kecil diajarkan untuk makan biar lebih nyaman. Karena itu ketika dewasa baru ngeh kalau stres maka pelampiasannya makan," lanjutnya.

Tara menghimbau, emotional eating atau memberi makan emosi memang terkesan sederhana tapi menimbulkan bahaya bagi tubuh. Sebab, emotional eating erat hubungannya antara sistem pencernaan dan pikiran sebagai pusat pengatur lapar.

"Jadi saat stres ada baiknya untuk mencari faktor penyebabnya. Makan boleh, tapi kalau berlebihan juga bisa bahaya," pungkasnya. (kna/up)