Rabu, 19 Des 2018 09:15 WIB

'Lapar Mata' Vs Lapar Beneran, Bagaimana Sih Membedakannya?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Rasa lapar tidak selalu berasal dari perut, kadang mata bisa menipu otak (Foto: iStock) Rasa lapar tidak selalu berasal dari perut, kadang mata bisa menipu otak (Foto: iStock)
Jakarta - Setiap orang pasti pernah mengalami stres. Biasanya untuk meredam emosi yang diakibatkan oleh stres, banyak orang melampiaskan dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang dianggap mampu menyenangkan hati dan pikiran.

Padahal, pada saat itu belum tentu perut terasa lapar dan harus diisi. Hal ini biasanya disebut emotional eating atau lapar mata.

Psikolog dari Light House, Tara de Thouars, BA, MPSi, mengatakan untuk selalu mencari tahu perbedaan antara lapar mata atau emosi dan lapar fisik. Jadi jangan sampai yang lapar hatinya yang dikasih obat perutnya.

"Selalu pastikan jika perut memang dalam keadaan lapar. Jadi kalau misal tiba-tiba ngidam makan cokelat, es krim atau pengin sesuatu, perhatikan dulu tanda-tanda fisiknya.

Kalau misalkan perut tidak terasa keroncongan, atau terasa perih, bahkan merasa 'begah' mungkin perut tidak minta apa-apa dan baiknya jangan diisi.



"Karena yang membedakan lapar emosi dan lapar fisik yaitu kalau lapar fisik biasanya masih bisa di tunda. Tapi kalau lapar emosi kita langsung bereaksi," tuturnya

Lapar fisik biasanya makan apa saja, kalau lapar emosi akan craving sesuatu yang memang diinginkan dan menjadi concern kita. lapar fisik juga setelah makan perasaan akan baik-baik aja, lain dengan lapar fisik yang setelah makan ada perasaan menyesal," sambungnya

Tara menambahkan, orang yang lapar mata akan cenderung makan dengan cepat dan dalam porsi yang banyak. Jadi tidak akan menikmati santapan yang dikonsumsi.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Subdit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementrian Kesehatan RI, dr Prima Yosephine, MKM, menjelaskan konsumsi Gula Garam Lemak (GGL) yang berlebihan akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

"Ada batasan konsumsi GGL per hari yang telah diatur oleh Kemenkes. Konsumsi berlebihan akan berisiko hipertensi, stroke, diabetes dan serangan jantung," pungkasnya.

(kna/up)