Rabu, 27 Mar 2019 17:46 WIB

Orang Indonesia Disebut Kurang Asupan Protein, Ini Tandanya

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Protein dibutuhkan untuk pembentukan sel-sel tubuh (Foto: iStock) Protein dibutuhkan untuk pembentukan sel-sel tubuh (Foto: iStock)
Jakarta - Protein yang diasup orang Indonesia ternyata masih kurang, demikian dijelaskan oleh pakar nutrisi olahraga, Mury Kuswari, SPd, MSi, dari Indonesian Association of Fitness and Sport Nutritionist (ANOKI) .

Ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Mury menuturkan bahwa protein sebenarnya memegang peranan penting untuk tubuh mulai dari zat pembangun sampai sumber yang penting untuk membentuk gen sampai hormon.

"Karena protein, proses melihat ini matanya jadi lebih jernih. Ada proses dalam tubuh dan itu butuh protein. Kalau kurang protein? Ambil dari tulang sehingga tulangnya jadi lebih keropos. Tulang nih itukan banyak kandungan protein mineralnya, di ambil dari situ, usia 40 sudah osteoporosis. Pasti diambil oleh tubuh karena tubuh butuh keseimbangan," jelas Mury.

Akibatnya apa nih kalau kurang protein? Misalnya, kamu yang biadanya jalannya bisa lebih cepet berubah jadi lebih pelan. Bisa juga kamu tadinya bisa konsentrasi hingga tiga jam alhasil hanya bisa tahan dan nggak nguap-nguap sampai satu setengah jam.

"Itu karena kekurangan, tubuh jadi melakukan penyesuaian agar bisa berjalan tapi nggak bisa maksimal," ujarnya.



Uniknya, meski tren di dunia kini lebih banyak yang mengurangi konsumsi daging, tapi di Indonesia berbeda, karena di Indonesia ternyata konsumsi dagingnya masih jauh lebih sedikit dan dianggap makanan mewah.

Terus bagaimana caranya tahu kalau kebutuhan protein kamu sudah tercukupi?

"Tanya ahli gizi, tangkinya kita itu kebutuhannya berapa sih, kan setiap orang beda. Dia yang udah diisi udah cocok belom, jangan-jangan diisinya setengah zat gizi bagus setengahnya lemak, nah itu harus ahli gizi," tuturnya.

"Kalau di lihat dari luar, kalau ke klinis, dia badannya lebih kecil, lebih kurus. Atau badannya kecil, tubuhnya kurus, tapi perutnya buncit, itu karena permasalahan kurang energi protein. Itu yang klinis. Tapi kalau orang normal begini, nggak kelihatan, mesti ke ahli gizi," tutupnya.

(ask/up)
News Feed